JAMBI — Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata mengapresiasi hasil kajian Prof. Dr. Ir. H. Aswandi, M.Si. dari Universitas Jambi yang menyoroti pentingnya melihat gambut sebagai ekosistem air, bukan sekadar lahan kering yang terus dikuras untuk kepentingan budidaya.

Menurut Ivan, kajian tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman kebakaran gambut tidak baru muncul ketika api terlihat. Risiko kebakaran telah terbentuk sejak muka air tanah mengalami penurunan, kanal-kanal menguras air, tutupan lahan berubah, hingga gambut kehilangan kemampuan alaminya dalam menyimpan air.

“Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi atas hasil kajian Prof. Dr. Ir. H. Aswandi, M.Si. dari Universitas Jambi mengenai pentingnya memahami gambut sebagai ekosistem air, bukan sebagai lahan kering yang harus terus dikuras untuk kepentingan budidaya,” ujar Ivan kepada TanyaFakta.co pada Kamis, (3/8/2026) siang.

Jaringan Kanal DAS Air Hitam Laut Capai 524 Kilometer

Ivan menilai data dalam kajian terkait Daerah Aliran Sungai (DAS) Air Hitam Laut cukup mengkhawatirkan.

Panjang jaringan kanal di kawasan tersebut mencapai sekitar 524 kilometer, dengan sekitar 444 kilometer berada di bagian hulu.

Kajian tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan luas perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI), penyusutan kawasan semak dan rawa, serta indikasi penurunan permukaan gambut sekitar 3–4 meter pada lokasi tertentu dalam kurun waktu kurang lebih 22 tahun.

“Kajian ini mengingatkan kita bahwa kebakaran gambut tidak dimulai ketika api muncul. Ancaman tersebut sudah terbentuk sejak muka air tanah menurun, kanal-kanal menguras air, tutupan lahan berubah, dan gambut kehilangan kemampuan alaminya untuk menyimpan air,” katanya.