Jakarta — Istilah slow burn relationship belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, terutama TikTok. Konsep ini menggambarkan hubungan yang berkembang secara perlahan tanpa terburu-buru, mulai dari rasa nyaman hingga tumbuh menjadi hubungan romantis yang lebih dalam.

Berbeda dengan hubungan yang diawali rasa cinta menggebu atau ketertarikan kuat sejak pertemuan pertama, slow burn relationship bertumbuh melalui proses saling mengenal, membangun rasa aman, dan menumbuhkan kepercayaan.

Tak sedikit pengguna TikTok membagikan pengalaman mereka menjalani hubungan yang pada awalnya terasa biasa saja, tetapi kemudian berkembang menjadi hubungan yang sehat dan bertahan lama.

Apa Itu Slow Burn Relationship?

Mengutip Women’s Health, profesor komunikasi relasi dan seksual, Tara Suwinyattichaiporn, menjelaskan bahwa slow burn relationship adalah hubungan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang, baik secara emosional, romantis, maupun seksual.

Artinya, hubungan tidak langsung dipenuhi gairah atau ketertarikan yang intens sejak awal. Banyak pasangan memulainya dari rasa nyaman, pertemanan, atau koneksi emosional yang tumbuh sedikit demi sedikit.

Dalam banyak kasus, hubungan jenis ini memang berawal dari pertemanan. Kedekatan dibangun melalui kebiasaan saling berbagi cerita, memberi dukungan, dan menghabiskan waktu bersama hingga akhirnya muncul perasaan yang lebih dalam.

Banyak orang baru menyadari ketertarikan romantis setelah melewati waktu yang cukup lama bersama. Sosok yang awalnya hanya menjadi teman berbagi cerita perlahan berubah menjadi seseorang yang memiliki arti lebih besar dalam hidup.

Karena dimulai dari pertemanan, hubungan slow burn umumnya memiliki fondasi komunikasi dan rasa percaya yang lebih kuat. Kedua pihak sudah lebih dulu memahami kebiasaan, karakter, hingga kekurangan masing-masing sebelum menjalin hubungan yang lebih serius.

Psikoterapis Elisabeth Crain mengatakan banyak orang merasa tertekan oleh gambaran jatuh cinta yang serba cepat seperti yang sering ditampilkan dalam film maupun media sosial. Menurutnya, hubungan yang sehat membutuhkan waktu untuk membangun koneksi yang kuat.