Oleh: Ados Aleksander Sianturi, S.Pd (Inisiator Lingkar Studi Mahasiswa Marhaenis)
Sejarah Indonesia hari ini sedang menghadapi ironi yang unik. Di satu sisi, generasi muda semakin antusias mempelajari tokoh-tokoh bangsa melalui media sosial. Di sisi lain, proses pembelajaran itu sering kali berlangsung secara instan, sepotong-sepotong, dan kehilangan konteks sejarahnya.
Akibatnya, yang muncul bukan kesadaran historis, melainkan fenomena fear of missing out (FOMO) terhadap tokoh tertentu dan penghakiman simplistis terhadap tokoh lainnya.
Dewasa ini, fenomena tersebut terlihat jelas dalam meningkatnya arus minat anak muda terhadap sosok Tan Malaka, terutama setelah hadirnya berbagai konten digital dan komunitas seperti Malaka Project yang memperkenalkan kembali sosok Tan Malaka kepada publik.
Akan tetapi, di tengah derasnya arus tersebut, muncul kecenderungan lain yang sama kuatnya, yakni mendiskreditkan Bung Karno melalui narasi-narasi populer di media sosial.
Bung Karno direduksi hanya menjadi tiga stigma yakni tukang kawin, penyebab hiperinflasi 1963-1966, dan bahkan mandor romusha. Tiga label ini beredar luas dalam bentuk potongan video, meme, dan unggahan pendek sensasional yang mudah dikonsumsi pengguna media sosial khususnya generasi muda. Padahal jelas. Persoalan sejarah tidak sesederhana algoritma media sosial.
Desukarnoisasi dalam Wajah Baru
Adapun istilah desukarnoisasi selama ini identik dengan kebijakan politik pasca-1965 (Era Orde Baru) yang secara sistematis berusaha mengurangi pengaruh pemikiran dan warisan politik Bung Karno. Era Orde Baru dibawah komando Soeharto berhasil membangun narasi bahwa Indonesia diselamatkan dari kekacauan ekonomi dan politik yang ditinggalkan oleh Soekarno.

