Semua pertanyaan dijawab Tan dengan lugas. Dalam percakapan itu Tan Malaka banyak menjelaskan soal strategi dan prospek revolusi Indonesia. Tan memberi saran tiga hal yang itu membuat Bung Karno semakin mengagumi pemikiran pendiri Partai Murba tersebut.

Pertama, pemerintahan RI hendaknya dipindahkan ke pedalaman. Kedua, orang-orang Belanda dan Inggris yang ada di Indonesia segera dipulangkan, dan ketiga menjadikan Jakarta sebagai medan pertempuran melawan pasukan Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia II.

Bung Karno sempat mempersoalkan alasan usulan Jakarta menjadi medan pertempuran. Sebab sebelumnya ia banyak menerima saran yang isinya justru Jakarta hendaknya disterilkan dari pertempuran.

Alhasil, Bung Karno mendapat penjelasan yang membuatnya semakin kagum dengan pemikiran Tan Malaka.

Sangkin terpesonanya, Bung Karno bahkan membuat satu testamen politik sekitar Oktober 1945 yang menyatakan bahwa apabila dirinya dan Mohammad Hatta tidak lagi mampu memimpin perjuangan, maka kepemimpinan revolusi dapat diserahkan kepada Tan Malaka yang disebutnya sebagai “seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner”.

Pernyataan tersebut menunjukkan betapa tinggi penghargaan Bung Karno terhadap Tan Malaka.

Sebaliknya, Tan Malaka sendiri menganggap kepercayaan itu sebagai bentuk penghormatan dan bukti adanya “ikatan jiwa dan paham” antara dirinya dengan Bung Karno, meskipun keduanya sering berbeda pandangan politik.

Mereka memang berdebat mengenai strategi revolusi. Tan Malaka cenderung menolak kompromi dengan kekuatan kolonial dan menginginkan revolusi yang lebih radikal.