Meskipun demikian, Bung Karno dalam otobiografinya “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat” karya Cindy Adams (1965) tetap mengakui bahwa keterlibatannya dalam Romusha merupakan penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Melalui buku itu, Soekarno mengakui hatinya remuk jika mengingat tentang romusha. Bung Karno menangis dalam hati karena sebetulnya dia-lah yang yang ditugasi Jepang untuk mendata dan ‘merayu’ rakyatnya memasuki ranah kerja paksa yang mengerikan itu.

Bung Karno pun mengetahui jika para romusha yang dikirim ke Burma, hampir 99 persen meninggal. Ada yang meninggal kelaparan, meninggal disiksa, meninggal dipenggal kepalanya, meninggal di dalam gerbong kereta tertutup yang berisi ribuan romusha. Mereka dipaksa bekerja hingga tinggal kulit pembalut tulang.

Sulit bagi Bung Karno yang anti fasis dan yang getol dengan politik non-kooperatif untuk memutuskan terjun dan mengambil langkah tersebut. Akan tetapi menurut Bung Karno, jalan menuju kematian itu harus ditempuh karena rakyat Indonesia belum sepenuhnya mampu melakukan perlawanan revolusioner

Dan pada momentum yang sama rakyat Indonesia dapat mengkonsolidasikan kekuatan menuju kemerdekaan.

Oleh karena itu, menempatkan Bung Karno semata-mata sebagai mandor romusha merupakan penyederhanaan sejarah yang mengabaikan konteks pendudukan militer Jepang dan strategi politik para nasionalis pada masa itu.

Sejarah memang harus kritis terhadap Bung Karno, tetapi kritik yang sehat tidak identik dengan reduksi dan penghapusan konteks.

FOMO Tan Malaka dan Romantisme Tokoh yang Terlupakan