Jambi – Upaya pemerintah menjadikan Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muara Jambi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO dinilai harus dibarengi dengan pelibatan seluruh elemen masyarakat, khususnya komunitas-komunitas pelestari budaya yang selama ini berkontribusi dalam menjaga dan merawat nilai-nilai budaya di kawasan tersebut.

Pelibatan masyarakat lokal merupakan salah satu aspek penting dalam proses nominasi Warisan Dunia UNESCO. Selain berkaitan dengan sistem perlindungan dan pengelolaan kawasan, keterlibatan komunitas juga menjadi indikator adanya komitmen keberlanjutan serta legitimasi sosial terhadap pelestarian situs budaya. Tanpa partisipasi aktif masyarakat, sebuah situs dinilai rentan kehilangan nilai hidupnya meskipun telah memperoleh pengakuan internasional.

Namun demikian, sejumlah pelaku dan pemerhati budaya menilai pelaksanaan pelibatan komunitas di KCBN Muara Jambi belum berjalan secara inklusif. Mereka menyoroti adanya dugaan ketimpangan dalam pemberian ruang dan fasilitasi kepada komunitas pelestari budaya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah V Jambi.

Menurut mereka, pada masa kepemimpinan Agus Widiatmoko, pola pembinaan komunitas terkesan lebih banyak berfokus pada kelompok tertentu, sementara komunitas lain yang juga aktif melakukan kegiatan pelestarian budaya merasa kurang memperoleh perhatian maupun kesempatan yang setara.

“Di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muara Jambi banyak komunitas pelestari budaya, namun hanya satu komunitas yang selalu mendapatkan perhatian dan dukungan, sedangkan yang lainnya tidak dipedulikan,” ujar salah seorang pelaku pelestarian budaya yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.