Jakarta — Pijat bayi kerap menjadi pilihan banyak orang tua untuk membantu menenangkan si kecil. Selain dipercaya membuat bayi tidur lebih nyenyak, pijat juga dianggap dapat membantu menjaga kesehatan dan kenyamanan bayi.

Namun, pijat bayi tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Dari sisi medis, pijat memang memiliki manfaat bagi bayi jika dilakukan dengan cara yang tepat, lembut, aman, dan disesuaikan dengan kondisi tubuh bayi. Sebaliknya, teknik yang keliru justru dapat menimbulkan risiko.

Salah satu alasan utama pijat bayi harus dilakukan dengan hati-hati adalah karena kondisi tubuh bayi masih dalam tahap perkembangan. Tulang, sendi, otot, hingga kulit bayi jauh lebih sensitif dibandingkan orang dewasa.

American Academy of Pediatrics (AAP) menegaskan bahwa pijat bayi sebaiknya dilakukan dengan sentuhan yang cukup terasa, namun tetap lembut dan konsisten.

Jika pijatan dilakukan terlalu keras atau menggunakan tekanan berlebihan, risiko cedera dapat meningkat. Sejumlah laporan medis bahkan mencatat adanya kasus patah tulang pada bayi yang dikaitkan dengan praktik pijat tradisional yang terlalu kuat. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang berbahaya bukan pijatnya, melainkan teknik yang digunakan.