JAMBI — Dugaan penipuan dengan modus menjanjikan akses jabatan dan proyek dengan mencatut nama Gubernur Jambi Al Haris kembali mencuat setelah dua korban baru angkat bicara. Keduanya mengaku menyerahkan uang puluhan hingga ratusan juta rupiah kepada seorang perempuan bernama Titin, yang disebut-sebut memiliki kedekatan dengan lingkungan gubernur.
Dalam wawancara yang disampaikan kepada LBH Makalam, salah satu korban mengaku datang untuk mencari keadilan karena merasa menjadi korban penawaran proyek penunjukan langsung yang dijanjikan memberikan keuntungan 10 persen dengan pengembalian modal dalam waktu satu hingga tiga bulan.
Korban tersebut mengatakan total uang yang diserahkan mencapai Rp115 juta melalui empat kwitansi terpisah. Ia mengaku yakin karena Titin disebut memiliki hubungan dekat dengan Gubernur Jambi, bahkan mengaku suaminya merupakan sepupu jauh titin.
“Dia suka memperlihatkan video saat berada di rumah Gubernur atau saat Gubernur berada di rumahnya,” ujar korban dalam wawancara tersebut.
Korban juga menyebut pernah diperlihatkan tangkapan layar percakapan yang diduga melibatkan kontak bernama “Aabg Haris”. Namun hingga kini belum ada verifikasi independen yang memastikan apakah nomor tersebut benar milik Gubernur Al Haris atau bukan.
Korban lain dalam wawancara yang sama mengaku mengalami kerugian Rp100 juta. Menurut pengakuannya, uang itu awalnya diberikan untuk membantu proses agar suaminya bisa lolos menjadi anggota TNI. Setelah gagal, dana tersebut dialihkan ke proses lain, yakni dugaan pengurusan CPNS di Lapas.
“Awalnya dijanjikan masuk TNI, lalu dialihkan ke CPNS bagian perhubungan atau pegawai lapas,” ujarnya. Ia mengatakan keluarga sempat diminta menunggu proses dan hasil seleksi, namun hingga kini tidak ada kejelasan.
Korban tersebut menyebut dirinya dan keluarga percaya karena Titin dikenal sebagai orang dekat Gubernur Al Haris. Ia juga mengatakan kepercayaan itu muncul setelah melihat unggahan dan cerita Titin yang memperlihatkan seolah-olah dirinya memiliki kedekatan dan akses langsung ke gubernur.
Dalam wawancara, kedua korban juga menyebut bahwa Titin pernah menunjukkan chat dan video untuk meyakinkan mereka. Salah satu korban mengatakan percakapan yang ditampilkan terdengar akrab, termasuk penggunaan sapaan “Bang”, yang menurut mereka memberi kesan hubungan dekat.
Selain itu, mereka juga mengaku mengetahui bahwa anak Titin merupakan ajudan pribadi Gubernur Jambi. Informasi tersebut, menurut mereka, semakin menguatkan keyakinan bahwa Titin memiliki kedekatan dan akses langsung ke lingkaran kekuasaan di Pemerintah Provinsi Jambi.
Sebelumnya, kasus ini juga mencuat lewat pengakuan korban lain yang mengaku mengalami kerugian hingga Rp400 juta setelah dijanjikan dapat meloloskan anaknya menjadi jaksa. Dalam perkara itu, kuasa hukum korban menyebut nama Gubernur Jambi ikut digunakan untuk meyakinkan korban.
Kejaksaan Tinggi Jambi telah menegaskan bahwa proses penerimaan calon jaksa maupun CASN di lingkungan kejaksaan dilakukan secara terbuka dan tidak memiliki jalur khusus atau titipan. Kejati juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada pihak yang mengaku bisa meluluskan seseorang dengan imbalan tertentu.
Di sisi lain, kuasa hukum Titin sebelumnya menyatakan persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak ada kaitan dengan Gubernur Jambi. Pemerintah Provinsi Jambi juga sebelumnya membantah bahwa Gubernur Al Haris pernah meminta atau menerima uang dari korban.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi terbaru dari pihak Titin terkait munculnya pengakuan dua korban baru tersebut. Belum juga ada verifikasi independen yang memastikan keaslian seluruh chat, video, maupun nomor kontak yang disebut dalam pengakuan para korban.
Kasus ini kini menjadi perhatian publik karena diduga tidak berhenti pada satu orang korban, melainkan menunjukkan pola berulang dengan modus serupa: menjanjikan akses jabatan, proyek, atau kelulusan melalui klaim kedekatan dengan pejabat publik.
