Kondisi ini membuat upaya pemadaman tidak bisa hanya mengandalkan hujan. Petugas Satgas Karhutla gabungan masih disiagakan di dua lokasi tersebut untuk mengendalikan api sekaligus mencegah kebakaran meluas ke kawasan sekitarnya.

Operasi pemadaman melalui udara menjadi pilihan utama. Medan yang sulit dijangkau dan karakteristik kawasan konservasi membuat akses darat menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

Di tengah operasi yang masih berlangsung, luas lahan yang telah terbakar juga belum dapat dipastikan. Satgas masih memprioritaskan pengendalian api sebelum melakukan pendataan menyeluruh terhadap dampak kebakaran.

“Kalau luas yang terbakar belum bisa diperkirakan, karena saat ini proses penanganan masih berlangsung dan api masih membakar,” tegas Nyamin.

Masih bertahannya titik api di Berbak Sembilang menjadi pengingat bahwa hujan dan meredanya kabut asap belum tentu menandakan karhutla telah berakhir. Terlebih di lahan gambut, ancaman kebakaran bisa kembali muncul dari bara yang tersembunyi di bawah permukaan tanah.

Satgas Karhutla Provinsi Jambi pun mengingatkan masyarakat dan seluruh pihak untuk tidak lengah. Kewaspadaan tetap diperlukan selama potensi cuaca panas dan kering masih ada, sebab api yang terlihat padam di permukaan belum tentu benar-benar mati di dalam gambut.