Penulis: Anderian Kamo
Selagi Indonesia mengaku merdeka, tetapi masih takut mendengar suara Papua, selama itu pula kemerdekaanakan menjadi cermin yang retak—memantulkan kebebasan bagi sebagian manusia,menyisakan pertanyaan bagi manusia lainnya.
Papua bukan sekadar titik di ujung peta, bukan tanah jauh yang hanya diingat ketika emas ditemukan, bukan hutan yang dihitung nilainya berdasarkan keuntungan, bukan pula manusia yang keberadaannyabaru dianggap penting ketika kekuasaan membutuhkan legitimasi.
Papua adalah tanah yang memiliki ingatan,manusia yang memiliki martabat, dan bangsa yang memiliki kehendakuntuk menentukan masa depannya sendiri. Di pegunungan, mama masih memikul noken,sementara sejarah memikul luka yang belum selesai.
Anak-anak melangkah melewati jalan berbatu, membawa buku sebagai senjata pengetahuan, menyimpan pertanyaan yang tak selalu mendapat jawaban: mengapa tanah kami begitu kaya,tetapi kehidupan kami masih harus berjuanguntuk memperoleh hak-hak yang mendasar?
Di hadapan gunung yang menyaksikan pergantian zaman, kami belajar bahwa diam tidak selalu berarti setuju, bahwa ketakutan tidak selalu berarti menyerah,dan bahwa suara yang lama ditekantidak kehilangan haknya untuk mencari ruang.
Wahai kekuasaan, jangan ukur kesetiaan kamidari seberapa sunyi kami menerima penderitaan. Jangan ukur persatuandari seberapa patuh kami menelan sejarah. Jangan ukur nasionalismedari seberapa sering kami diminta melupakanpertanyaan yang belum memperoleh jawaban.
Sebab, persatuan tanpa keadilan hanyalah ikatan yang dipaksakan; pembangunan tanpa persetujuan masyarakat adalah kemajuanyang lupa bertanya kepada siapa ia harus mengabdi.
Kami tidak ingin menjadi angkadalam laporan keberhasilan yang tidak kami rasakan.

