Salah satu karakteristik FIV adalah infeksinya berlangsung seumur hidup. Hingga kini, belum tersedia pengobatan yang dapat menghilangkan virus tersebut sepenuhnya.
Meski demikian, kucing yang dinyatakan positif FIV tidak otomatis akan mengalami sakit berat atau memiliki usia hidup pendek. Dengan perawatan yang tepat, banyak kucing FIV positif dapat hidup selama bertahun-tahun dengan kualitas hidup yang baik.
Bagaimana FIV Menular pada Kucing?
Penularan FIV paling sering terjadi melalui gigitan kucing yang terinfeksi. Virus yang terdapat dalam air liur masuk ke tubuh kucing lain melalui luka gigitan.
Karena itu, kucing yang sering berkeliaran di luar rumah dan terlibat perkelahian dengan kucing lain memiliki risiko lebih tinggi terinfeksi FIV.
Beberapa kondisi yang memungkinkan penularan FIV antara lain:
1. Gigitan saat berkelahi
Ini merupakan jalur penularan utama FIV. Risiko meningkat ketika kucing saling menggigit hingga menimbulkan luka.
2. Penularan dari induk ke anak
Induk kucing yang terinfeksi dapat menularkan virus kepada anaknya selama kehamilan, proses kelahiran, atau menyusui. Namun, penularan dari induk ke anak relatif jarang terjadi secara alami.
3. Transfusi darah
Penularan dapat terjadi apabila kucing menerima transfusi darah yang terkontaminasi FIV.
4. Peralatan medis yang tidak steril
Penggunaan alat medis yang terkontaminasi darah dari kucing terinfeksi juga berpotensi menularkan virus.
Sementara itu, penularan melalui kontak sosial biasa, seperti tidur bersama, saling menjilat, atau menggunakan tempat makan dan minum yang sama, bukan jalur utama penyebaran FIV. Risiko melalui aktivitas tersebut tergolong rendah selama kucing tidak saling berkelahi.

