JAMBI — Sore itu, Pemakaman Katolik Pall 12 Jambi tak sekadar menjadi peristirahatan terakhir, melainkan ruang perjumpaan iman dan kerinduan. Ratusan umat Katolik berkumpul bersama keluarga untuk melangsungkan Misa Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman. Perayaan Ekaristi yang dimulai sekitar pukul 15.30 WIB ini dipimpin secara konselebran oleh empat orang pastor, Senin (2/11/26).
Dalam khotbahnya, Romo Ngatijan, SCJ yang merupakan salah satu imam yang memimpin Ekaristi menyampaikan pesan mendalam mengenai arti kehidupan dan kefanaan manusia. Beliau mengajak umat untuk merenungkan sabda Yesus, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup” serta menekankan pentingnya prinsip Memento Mori.
Istilah Memento Mori sendiri berasal dari bahasa Latin yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Ingatlah bahwa kamu akan mati”. Melalui pesan tersebut, Pastor mengingatkan umat agar tidak terlena dengan urusan duniawi yang sementara.
Mengingat kematian bukanlah bentuk keputusasaan, melainkan pengingat agar setiap orang senantiasa menjaga iman, memperbanyak perbuatan kasih, dan mempersiapkan diri dengan baik menuju kehidupan kekal bersama Kristus.
Usai perayaan Ekaristi, suasana penuh haru berlanjut ketika umat mendatangi makam sanak keluarga masing-masing. Didampingi anggota keluarga, mereka memanjatkan doa dan menaburkan bunga yang telah diberkati di atas pusara orang-orang terkasih sebagai wujud kerinduan dan penghormatan.
Tradisi mendoakan arwah yang dirayakan Gereja Katolik setiap tanggal 2 November tidak dapat dipisahkan dari konsep Memento Mori serta sejarah perkembangan liturgi KristKriste
Sejarah Singkat Memento Mori
Konsep ini berakar dari tradisi filsafat kuno (terutama Stoikisme Romawi) yang kemudian diadaptasi dan diberi makna mendalam dalam tradisi Kristiani.

