Untuk mencapai tujuan tersebut, satu sistem AI harus mampu bekerja pada berbagai jenis robot dan lingkungan kerja yang berbeda.
Tantangan ini membutuhkan model kecerdasan buatan yang semakin canggih serta dukungan chip komputasi berkemampuan tinggi.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan China juga berupaya mengurangi kebutuhan komputasi melalui pengembangan model yang lebih efisien, pemanfaatan data sintetis, dan simulasi.
Kemampuan mengembangkan AI yang dapat beradaptasi dengan berbagai kondisi fisik akan menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan industri robotika ke depan.
Dengan semakin besarnya investasi dan keterlibatan perusahaan teknologi, persaingan robot humanoid kini tidak hanya berkaitan dengan siapa yang mampu membuat robot paling canggih secara fisik, tetapi juga siapa yang mampu mengembangkan kecerdasan agar robot dapat memahami dan menjalankan pekerjaan secara mandiri.

