Sementara itu, perusahaan asal China, X Square, telah memublikasikan penelitian yang menunjukkan bahwa robot dapat mempelajari keterampilan menangani benda hanya dengan melihat satu video demonstrasi manusia. Proses tersebut tidak memerlukan pelatihan ulang model untuk setiap tugas.
Konsultan robotika Georg Stieler menilai perusahaan-perusahaan AS masih memiliki keunggulan dalam penelitian AI, terutama dalam kemampuan robot mempelajari dan menggunakan keterampilan baru.
“Laboratorium AI terkemuka di AS telah menetapkan standar yang cukup tinggi, terutama dalam hal seberapa cepat robot dapat mempelajari dan menggunakan keterampilan yang dimilikinya,” kata Stieler.
Meski demikian, ia menilai sejumlah perusahaan rintisan terkuat di China merupakan pesaing yang patut diperhitungkan.
Pengembang di AS memiliki keuntungan dari kemajuan penelitian AI dan akses yang lebih luas terhadap chip komputasi berkemampuan tinggi. Sebaliknya, perusahaan China dapat bekerja sama secara langsung dengan produsen robot dan pelanggan industri untuk menguji serta meningkatkan kemampuan sistem mereka.
Sejumlah perusahaan rintisan khusus di China, seperti X Square, Galaxea, dan Spirit AI, kini telah mencapai valuasi sekitar US$3 miliar.
“Kami ingin robot beralih dari sekadar digerakkan oleh kode menjadi digerakkan oleh akal sehat,” kata Co-Founder sekaligus COO X Square, Yang Qian.
Robot Membutuhkan Data Interaksi Fisik, Bukan Sekadar Teks
Berbeda dengan chatbot yang dilatih menggunakan teks dalam jumlah besar dari internet, robot membutuhkan contoh interaksi fisik agar dapat memahami lingkungan dan menjalankan pekerjaan.

