Contohnya adalah kemampuan menggenggam berbagai benda, memindahkan barang, hingga menangani kabel yang lentur. Keterampilan seperti ini membutuhkan data gerakan dan interaksi langsung dengan objek di dunia nyata.
Untuk mengumpulkan data tersebut, perusahaan robotika China menerapkan berbagai pendekatan. Sebagian mempekerjakan orang untuk memperagakan tugas tertentu, sementara perusahaan lain menggunakan simulasi komputer. Ada pula yang menggabungkan kedua metode tersebut.
Persaingan pengembangan teknologi ini masih berlangsung ketat dan belum ada satu perusahaan yang berhasil menjadi pemimpin pasar secara jelas.
Gao menyebut Spirit AI telah mempekerjakan sekitar 1.000 orang untuk merekam berbagai aktivitas sehari-hari dan pekerjaan industri. Data tersebut digunakan untuk membantu pengembangan kemampuan robot dalam memahami dan menjalankan tugas.
Sementara itu, ACE Robotics menggunakan sensor yang dikenakan pada tubuh untuk merekam gerakan serta kekuatan genggaman tangan pekerja ketika menjalankan aktivitas di toko dan hotel.
Pendekatan lain dilakukan Robbyant, unit robotika milik Ant Group. Perusahaan tersebut mengaku telah melatih model AI menggunakan 160.000 jam materi pelatihan, termasuk 50.000 jam rekaman gerakan robot yang diarahkan oleh manusia.
Robbyant juga melatih perangkat lunaknya menggunakan 20 konfigurasi robot dari 17 merek berbeda. Tujuannya agar satu sistem AI dapat digunakan pada berbagai jenis mesin.
Perusahaan tersebut menyebut robot buatannya telah digunakan untuk menangani pesanan di dua apotek di Shanghai. Meski demikian, staf manusia masih bertugas memeriksa obat-obatan sebelum pesanan dikirimkan.
Tantangan Mengembangkan AI yang Bisa Digunakan di Berbagai Robot
Target jangka panjang industri embodied AI adalah menciptakan perangkat lunak yang mampu mempelajari pekerjaan baru tanpa membutuhkan banyak penyesuaian atau pelatihan ulang.

