Wilayah yang masuk dalam daftar kewaspadaan meliputi Kabupaten Probolinggo, Jember, Lumajang, Banyuwangi, Pacitan, Nganjuk, Ponorogo, dan Magetan.

Selain itu, potensi cuaca ekstrem juga mencakup Kota Batu serta wilayah kabupaten dan kota di Pasuruan, Kediri, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Mojokerto.

Masyarakat di wilayah tersebut diminta memperhatikan perkembangan cuaca karena hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat memicu berbagai dampak, terutama di kawasan rawan bencana.

MJO dan Pertemuan Angin Picu Potensi Cuaca Ekstrem

Taufiq menjelaskan, potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer. Salah satunya adalah gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang melintasi wilayah Jawa Timur.

Selain itu, terdapat pola pertemuan angin atau konvergensi yang turut mendukung pembentukan awan hujan.

Kondisi suhu muka laut di perairan Selat Madura yang masih cukup signifikan serta atmosfer lokal yang labil juga berkontribusi terhadap pertumbuhan awan konvektif.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi menghasilkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.

“Potensi cuaca ekstrem ini merupakan dampak adanya gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation yang melintasi wilayah Jawa Timur dan pola pertemuan angin. Selain itu, kondisi suhu muka laut perairan Selat Madura juga masih cukup signifikan, serta kondisi atmosfer lokal yang labil,” kata Taufiq.

Analisis Atmosfer Menunjukkan Kondisi Labil

BMKG juga memaparkan sejumlah parameter hasil analisis cuaca terkini yang mendukung potensi terjadinya cuaca ekstrem di Jawa Timur.