Kesulitan memaafkan tidak selalu menunjukkan kurangnya empati, terutama jika kesalahan yang terjadi menimbulkan dampak serius atau berulang. Namun, jika kamu cenderung mengabaikan konteks dan tidak mau mempertimbangkan usaha orang lain untuk berubah, kebiasaan tersebut dapat menjadi bahan refleksi.

Memahami alasan di balik kesalahan bukan berarti harus membenarkan tindakan yang merugikan. Kamu tetap dapat menetapkan batasan sekaligus berusaha memahami perspektif orang lain.

6. Tidak Mendengarkan dengan Baik

Kebiasaan memotong pembicaraan, mengalihkan topik, atau sibuk memikirkan jawaban sendiri saat orang lain berbicara dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.

Mendengarkan secara aktif berarti memberikan perhatian pada cerita orang lain, mencoba memahami maksudnya, dan mengajukan pertanyaan jika ada hal yang belum jelas.

Dengan mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi, kamu memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami perasaan dan kebutuhan orang lain.

7. Terlalu Berfokus pada Diri Sendiri

Dalam percakapan atau pengambilan keputusan, kamu mungkin cenderung mengutamakan kebutuhan dan sudut pandang pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.

Misalnya, kamu mengambil keputusan bersama hanya berdasarkan keinginan sendiri atau menganggap pengalaman pribadimu sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai masalah orang lain.

Mempertimbangkan sudut pandang berbeda dapat membantu kamu memahami bahwa kebutuhan, batasan, dan pengalaman setiap orang tidak selalu sama.

Cara Melatih Empati dalam Kehidupan Sehari-hari

Jika beberapa perilaku tersebut terasa familiar, kamu tidak perlu langsung memberi label negatif kepada diri sendiri. Mengenali kebiasaan yang perlu diperbaiki merupakan langkah awal untuk berkembang.