Mikroplastik Berasal dari Plastik Sehari-hari

Jenis mikroplastik yang ditemukan dalam penelitian tersebut antara lain polipropilena dan polietilena. Keduanya merupakan jenis plastik yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, termasuk kemasan dan tekstil.

“Ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa pengurangan polusi plastik lingkungan mungkin memiliki manfaat yang meluas melampaui ekosistem dan ke kesehatan manusia,” kata Dimeas.

Meski demikian, Dimeas menekankan bahwa penelitian tersebut tidak dirancang untuk menjelaskan mengapa mikroplastik ditemukan di paru-paru pasien kanker dalam jumlah lebih banyak.

Penelitian ini lebih jauh melihat bagaimana mikroplastik dapat berkontribusi terhadap peradangan dan proses biologis lainnya yang berkaitan dengan penyakit, termasuk kanker.

“Yang ditunjukkan adalah mikroplastik ditemukan lebih sering dan dalam jumlah yang lebih besar pada pasien kanker paru-paru, yang menimbulkan pertanyaan penting untuk penelitian di masa mendatang,” kata Dimeas.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam Journal of Clinical Medicine juga menyimpulkan bahwa mikroplastik sering ditemukan pada jaringan toraks manusia dan memiliki keterkaitan dengan keganasan paru-paru. Namun, karakteristik penelitian tersebut tetap membutuhkan studi lebih lanjut untuk memahami mekanisme hubungan tersebut.

Apakah Mikroplastik Menyebabkan Kanker Paru-paru?

Temuan ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa mikroplastik menyebabkan kanker paru-paru.

Ada kemungkinan bahwa kondisi biologis tertentu pada pasien kanker berkaitan dengan perbedaan jumlah atau retensi mikroplastik di paru-paru. Karena itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah mikroplastik berperan dalam proses terjadinya penyakit atau hanya ditemukan lebih banyak pada pasien yang sudah mengalami kanker.

Dengan kata lain, hubungan yang ditemukan dalam penelitian ini bukan bukti hubungan sebab-akibat.

Temuan tersebut tetap penting karena memperkuat bukti bahwa manusia dapat terpapar mikroplastik melalui saluran pernapasan. Para peneliti kini perlu mengetahui bagaimana partikel tersebut bertahan di paru-paru, apakah dapat memicu peradangan, serta apakah paparan jangka panjang berpengaruh terhadap kesehatan paru-paru.