Jakarta – Dentuman yang terdengar di Bandung dan sejumlah wilayah di Jawa Barat sekitar Jumat (4/9) sempat menarik perhatian masyarakat. Para ahli menduga suara tersebut bukan gempa atau getaran dari tanah, melainkan bersumber dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM Rita Susilawati menyebut adanya dugaan hubungan antara dentuman yang terdengar di Bandung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Rita menjelaskan, pelepasan energi akustik pada erupsi tipe phreatic biasanya disertai dentuman yang nyaring. Menurutnya, erupsi Gunung Anak Krakatau kemungkinan menjadi salah satu sumber suara dentuman di beberapa wilayah Jawa Barat pada 4-5 September.

“Ketika ini terjadi, pelepasan energi akustiknya itu bisa sangat besar, dan energi akustik inilah yang bisa merambat hingga ratusan kilometer,” jelas Rita, melansir Detik (5/9).

Meski demikian, Rita mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti getaran dan dentuman tersebut.

Ia menambahkan, kondisi atmosfer seperti perbedaan temperatur, arah, dan kecepatan angin dapat memengaruhi perambatan suara.

Dugaan tersebut diperkuat oleh pernyataan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono. Ia menjelaskan bahwa dentuman yang terdengar di Bandung mungkin berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Fenomena dentuman Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah (infrasound) yang merambat melalui troposfer dan stratosfer,” kata Daryono.

Gelombang Infrasound Bisa Merambat Jauh

Daryono menjelaskan, gelombang tekanan tersebut dapat terperangkap di dalam saluran gelombang atmosferik (atmospheric waveguide). Kondisi ini terjadi akibat refraksi gradien temperatur serta geser angin (wind shear).

Akibat kondisi tersebut, gelombang suara tidak selalu terdengar secara langsung. Gelombang dapat mengalami redaman atau atenuasi yang minim, kemudian membias dan akhirnya mencapai permukaan di wilayah yang jauh, termasuk Bandung.

Redaman gelombang suara tersebut kemudian dapat memicu getaran resonansi mekanis pada struktur ringan seperti kaca jendela. Fenomena itu dapat terjadi tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik tanah.

“Penumpukan gelombang akustik spesifik di Bandung terjadi akibat kombinasi refraksi infrasound pada gradient temperatur dan wind shear stratosfer yang membiaskan energi suara melompati daerah terdekat (acoustic shadow zone) untuk jatuh tepat pada jarak fokal Cekungan Bandung,” ungkapnya.

Menurut Daryono, bentuk topografi Cekungan Bandung juga berperan dalam fenomena tersebut. Cekungan tersebut dapat menjadi rongga akustik (acoustic cavity) yang memantulkan kembali sekaligus mengamplifikasi tekanan gelombang atmosferik secara lokal.

Dengan demikian, dugaan dentuman yang terdengar di Bandung berkaitan dengan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berarti getaran tersebut merambat melalui tanah seperti gelombang gempa. Berdasarkan penjelasan ahli, fenomena tersebut berkaitan dengan perambatan energi akustik atau gelombang infrasound melalui atmosfer.

Namun, PVMBG menyatakan penyebab pasti getaran dan dentuman tersebut belum dapat dipastikan.