DBD Tidak Hanya Perlu Diwaspadai Saat Musim Hujan

Kewaspadaan terhadap dengue juga tidak seharusnya hanya muncul ketika musim hujan tiba.

Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Kala itu, tercatat 58 kasus dengan 24 kematian atau tingkat kematian mencapai 41,3 persen.

Hampir enam dekade kemudian, Indonesia telah mencatat kemajuan dalam penanganan dengue. Tata laksana kasus dan berbagai upaya pengendalian berhasil menekan tingkat kematian hingga di bawah 1 persen.

Namun, dengue masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Penyakit ini dapat ditemukan di berbagai wilayah dan menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, tempat tinggal, maupun gaya hidup.

WHO juga menegaskan bahwa penularan dengue dapat terjadi selama nyamuk penular masih aktif. Faktor seperti suhu dan kelembapan dapat mendukung kelangsungan hidup nyamuk sehingga risiko dengue tidak semata-mata bergantung pada datangnya musim hujan.

Artinya, anggapan bahwa DBD hanya perlu diwaspadai ketika hujan turun perlu ditinggalkan. Selama nyamuk penular dan kondisi lingkungan yang mendukung perkembangbiakannya masih ada, risiko penularan tetap perlu diperhatikan.

Beban Dengue Juga Dirasakan Keluarga

Dampak dengue tidak berhenti pada pasien. Ketika satu anggota keluarga jatuh sakit, anggota keluarga lainnya ikut terdampak.

Studi Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat dengue terjadi di Indonesia pada 2024. Beban ekonomi akibat penyakit tersebut diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.

Di tingkat keluarga, satu kasus dengue dapat berarti biaya perawatan, waktu yang tersita untuk mendampingi pasien, hingga hilangnya waktu produktif.

Country Head Malaysia & Indonesia Takeda, Simon Gallagher, mengatakan dampak tersebut membuat keluarga memiliki peran penting dalam upaya pencegahan dengue.

“DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial,” ujar Simon.

Menurut dia, target nol kematian akibat dengue pada 2030 membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk keluarga. Pencegahan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan keluarga sebelum dengue terjadi.