Jakarta — Ketika usia anak bertambah, terutama saat mulai memasuki usia sekolah, orang tua dapat mulai membangun kebiasaan tidur mandiri. Salah satunya dengan melatih anak untuk tidur sendiri di kamar atau tempat tidurnya.
Kebiasaan tersebut dapat membantu anak belajar mandiri sekaligus membangun rutinitas tidur yang lebih teratur.
Namun, mengubah kebiasaan tidur anak tidak selalu mudah. Sebagian anak mungkin membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu sebelum terbiasa tidur tanpa ditemani orang tua.
Prosesnya pun perlu dilakukan secara bertahap. Orang tua dapat memberikan penjelasan, mendengarkan kekhawatiran anak, serta menciptakan rasa aman selama perubahan kebiasaan berlangsung.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut 8 cara melatih anak tidur sendiri yang dapat dicoba orang tua.
1. Pastikan Orang Tua Sudah Siap
Sebelum mengubah kebiasaan tidur anak, orang tua juga perlu mempersiapkan diri secara mental.
Mengutip Hand in Hand Parenting, perubahan kebiasaan tidur dapat membutuhkan kesabaran. Anak mungkin menunjukkan penolakan atau merasa tidak nyaman ketika mulai diminta tidur sendiri.
Orang tua perlu memahami bahwa proses tersebut tidak selalu berlangsung dalam satu atau dua malam.
2. Jelaskan kepada Anak
Bicarakan kepada anak mengenai alasan mengapa ia mulai belajar tidur di tempat tidurnya sendiri.
Sampaikan penjelasan dengan tenang dan hindari menunjukkan rasa kesal atau frustrasi ketika anak belum siap.
Penjelasan yang diberikan secara konsisten dapat membantu anak memahami bahwa tidur sendiri merupakan kebiasaan baru yang sedang dibangun.
Orang tua juga dapat memberi kesempatan kepada anak untuk menyampaikan hal-hal yang membuatnya takut atau tidak nyaman.
3. Persiapkan Anak pada Siang Hari
Membangun kedekatan dengan anak tidak harus dilakukan ketika menjelang tidur.
Orang tua dapat meluangkan waktu khusus pada siang hari untuk bermain atau melakukan aktivitas fisik bersama anak. Waktu berkualitas tersebut dapat membantu anak merasa lebih dekat dan terhubung dengan orang tua.
Rasa dekat dan aman juga dapat membantu anak menghadapi ketakutan atau kecemasan yang mungkin muncul ketika waktu tidur tiba.
4. Lakukan Secara Perlahan
Perubahan kebiasaan sebaiknya tidak dilakukan secara mendadak.
Ketika anak sudah berada di tempat tidur, orang tua dapat memberi tahu bahwa dirinya akan mulai berpindah ke tempat tidur sendiri. Jika anak menunjukkan penolakan, orang tua dapat tetap berada di dekatnya terlebih dahulu.
Berikan kesempatan kepada anak untuk mengungkapkan perasaannya. Dengan cara tersebut, anak dapat menghadapi perubahan dan rasa khawatir terhadap kepergian orang tua secara bertahap.
5. Tetap Dekat dan Dengarkan
Anak mungkin menangis, tantrum, atau marah ketika mulai belajar tidur sendiri. Dalam kondisi tersebut, orang tua sebaiknya berusaha tetap tenang dan berada di dekat anak.
Dengarkan apa yang ingin disampaikan tanpa langsung memarahi anak.
Tantrum dapat menjadi salah satu cara anak mengekspresikan emosi. Dengan mendengarkan, orang tua dapat mengetahui hal yang membuat anak merasa takut atau tidak nyaman.
6. Berikan Dukungan dan Rasa Aman
Ketika sedang mengalami tantrum, anak mungkin belum dapat menerima nasihat atau penjelasan panjang dengan baik.
Karena itu, orang tua tidak perlu memberikan banyak penjelasan pada saat emosi anak sedang memuncak. Kalimat sederhana dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa orang tua tetap berada di dekatnya.
Misalnya:
- “Mama/Papa di sini.”
- “Kamu aman.”
- “Mama/Papa akan memastikan kamu tetap aman.”
Kehadiran dan respons yang tenang dapat membantu anak merasa lebih nyaman menghadapi perubahan rutinitas tidur.
7. Tunggu sampai Anak Tenang
Ketika emosi anak mulai mereda, suasana biasanya menjadi lebih kondusif untuk melanjutkan rutinitas tidur.
Setelah anak lebih tenang, orang tua dapat kembali mencoba meninggalkan kamar secara perlahan. Jika anak masih mengalami kesulitan, langkah tersebut dapat dicoba kembali pada malam berikutnya.
Membiasakan anak tidur sendiri membutuhkan proses. Karena itu, orang tua mungkin perlu melakukan beberapa kali percobaan sampai anak mulai terbiasa dengan rutinitas baru.
8. Berikan Ruang untuk Perasaan Anak
Selama mendampingi anak, orang tua juga dapat mengalami berbagai emosi, seperti lelah, frustrasi, atau merasa putus asa ketika anak terus menangis.
Perasaan tersebut dapat muncul selama proses mendampingi anak dan perlu diperhatikan.
Orang tua dapat membicarakan perasaan tersebut dengan pasangan atau orang yang dipercaya. Kondisi emosi yang lebih tenang dapat membantu orang tua memberikan pendampingan secara konsisten kepada anak.
Melatih anak tidur sendiri membutuhkan waktu dan kesabaran. Setiap anak dapat menunjukkan respons yang berbeda terhadap perubahan kebiasaan tidur.
Dengan pendekatan yang bertahap, komunikasi yang tenang, serta rasa aman yang tetap diberikan, anak dapat perlahan beradaptasi dengan kebiasaan tidur secara mandiri.

