Ketika terbangun, Mary mendapati dirinya berada di fasilitas penelitian milik Async. Di sana, ia bertemu ilmuwan bernama Phil yang menjelaskan bahwa perusahaan tersebut awalnya mengembangkan teknologi MRI sebelum menemukan fenomena The Backrooms.

Phil mengungkapkan teori bahwa The Backrooms bekerja layaknya ruang gema bagi ingatan manusia. Tempat itu mereplikasi kenangan, tetapi tidak pernah mampu membentuknya secara sempurna. Karena itulah berbagai lokasi dan sosok di dalam The Backrooms tampak familiar sekaligus ganjil.

Menjelang akhir film, penonton diperlihatkan montase kenangan Mary sejak masa kecil hingga masa dewasanya. Adegan terakhir menampilkan sosok menyerupai Mary dalam bentuk tidak sempurna yang duduk sendirian di dalam The Backrooms.

Interpretasi Ending Backrooms (2026)

Ending film ini sengaja dibuat terbuka sehingga memunculkan berbagai penafsiran.

Salah satu interpretasi menyebut Mary telah menghabiskan cukup waktu di The Backrooms hingga tempat tersebut menyerap memorinya dan menciptakan salinan dirinya. Sosok yang terlihat pada adegan terakhir diyakini merupakan versi “abadi” Mary yang akan terus berada di sana.

Dalam sudut pandang ini, Backrooms bukan sekadar film monster, melainkan kisah tentang bagaimana trauma dan kenangan buruk dapat menjadi penjara psikologis bagi seseorang.

Clark digambarkan terperangkap oleh kegagalan karier dan perceraian yang dialaminya. Sementara Mary juga membawa luka emosional dari masa kecilnya. The Backrooms kemudian menjadi representasi fisik dari beban psikologis tersebut.