Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana di Desa Sidoharjo I Pasar Miring bukan sekadar potensi, melainkan persoalan nyata yang perlu segera ditangani melalui langkah yang lebih sistematis. Desa ini sebenarnya telah memiliki program DESTANA atau Desa Tangguh Bencana. Namun, dalam diskusi diketahui bahwa program tersebut belum berjalan secara efektif.

 

Kehadiran Tim Desa Binaan USU melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sumatera Utara atau LPPM USU diarahkan untuk memperkuat kapasitas desa dalam mengelola risiko bencana. Program ini tidak hanya berfokus pada sosialisasi, tetapi juga pada penguatan tata kelola bencana, komunikasi risiko, penyusunan dokumen kebencanaan, serta peningkatan partisipasi masyarakat.

 

Ketua Tim Desa Binaan USU, Dra. Februati Trimurni, M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa pertemuan awal ini akan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion atau FGD yang melibatkan sejumlah pihak terkait.

 

“Setelah ini kita akan adakan FGD yang melibatkan perangkat Desa Sidoharjo, perwakilan masyarakat, pengurus DESTANA, BPBD dan Dinas Pendidikan Kabupaten. Nah, salah satu luaran yang akan kita hasilkan adalah Kajian Risiko Bencana yang harapannya nanti bisa diimplementasikan di desa tersebut,” ujar Dra. Februati.

 

FGD tersebut direncanakan berlangsung pada Agustus 2026. Kegiatan ini akan menjadi ruang bersama untuk memetakan risiko, mengidentifikasi kebutuhan desa, serta menyusun langkah penguatan yang lebih sesuai dengan kondisi lapangan.