JAKARTA – Tato permanen kerap dipandang sebagai bentuk seni atau ekspresi diri. Namun, di balik gambar yang menempel seumur hidup di kulit, terdapat proses biologis yang melibatkan sistem imun dan struktur kulit manusia.
Setiap tato dibuat melalui tusukan jarum yang berulang kali memasukkan tinta ke dalam kulit. Proses tersebut memicu respons alami tubuh terhadap luka mikro dan keberadaan partikel asing.
Mulai dari proses masuknya tinta ke lapisan kulit, reaksi sistem kekebalan tubuh, hingga cara pigmen bertahan selama bertahun-tahun, semuanya berperan dalam membuat tato bersifat permanen.
Tinta Masuk ke Lapisan Dermis
Mengutip National Library of Medicine, tato permanen dibuat menggunakan jarum yang menusuk kulit berulang kali untuk memasukkan tinta ke lapisan dermis, yaitu lapisan kulit yang berada di bawah epidermis.
Epidermis merupakan lapisan kulit paling luar yang terus mengalami regenerasi dan mengelupas secara alami. Apabila tinta hanya berada pada lapisan tersebut, warnanya akan cepat memudar.
Karena itu, tinta ditempatkan di lapisan dermis yang lebih stabil sehingga pigmen dapat bertahan dalam waktu lama dan menghasilkan tato permanen.
Sistem Imun Menganggap Tinta sebagai Benda Asing
Meski tato dibuat secara sengaja, tubuh tetap mengenali tinta sebagai benda asing.
Setelah tinta masuk ke dalam kulit, sistem imun langsung memberikan respons seperti ketika tubuh mengalami luka kecil. Selama proses penyembuhan, area kulit dapat mengalami kemerahan, bengkak ringan, nyeri, atau terasa hangat.
Dalam tahap ini, sel imun yang disebut makrofag akan bergerak menuju area kulit untuk menangkap partikel tinta.
Makrofag merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh yang bertugas membersihkan benda asing, kuman, maupun partikel lain yang masuk ke dalam tubuh.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Academy of Dermatology (JAAD), sebagian pigmen tato kemudian tersimpan di dalam makrofag dan sel kulit lain seperti fibroblas.
Ketika makrofag mati, partikel pigmen akan dilepaskan dan kemudian ditangkap kembali oleh makrofag baru. Siklus tersebut terus berlangsung sehingga warna tato dapat bertahan dalam waktu yang sangat lama.

