Jakarta — Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai masih memiliki daya tawar politik di tengah berbagai kritik dan polemik yang menyertainya. Penilaian tersebut didasarkan pada posisinya dalam pemerintahan, tingkat pengenalan publik, serta hasil survei yang menunjukkan peningkatan elektabilitas dalam beberapa periode terakhir.

Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, mengatakan berbagai kritik dan serangan politik terhadap Gibran tidak bisa dilepaskan dari posisinya dalam peta kekuasaan nasional. Terlebih, Gibran dinilai masih memiliki prospek politik untuk kontestasi pada masa mendatang.

“Kekuatan seorang tokoh tidak hanya ditentukan oleh jabatan yang sedang diemban, tetapi juga oleh daya tawarnya dalam perebutan kekuasaan berikutnya,” kata Chamad dalam keterangannya, Senin (2/11).

Menurut Chamad, jabatan wakil presiden dan tingkat pengenalan publik yang luas menjadi modal politik tersendiri bagi Gibran. Kedua faktor tersebut membuat namanya masih diperhitungkan dalam bursa kandidat potensial untuk kontestasi politik berikutnya.

Meski demikian, posisi strategis tersebut juga membuat Gibran tidak lepas dari sorotan. Sejumlah polemik, mulai dari persoalan administrasi pendidikan, rivalitas politik, hingga perdebatan mengenai latar belakang keluarga, turut mewarnai perjalanan politiknya.

Kritik di Media Sosial Belum Tentu Mewakili Mayoritas

Chamad menilai kritik terhadap Gibran cukup dominan dalam percakapan di media sosial. Namun, ramainya kritik di ruang digital tidak serta-merta mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat.