Sementara itu, situasi karhutla secara nasional justru semakin berat. Data menunjukkan luas area terbakar pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004 hektare, naik sekitar 69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah pun menyebut karhutla sebagai bentuk “terorisme ekologi”, menandakan betapa seriusnya persoalan ini.
Di tengah gambaran besar yang suram itu, apa yang dilakukan Yandri dan MPA Desa Pematang Rahim mungkin tampak kecil. Satu patroli hanya melintasi beberapa kilometer jalan tanah, menegur beberapa warga, dan memeriksa beberapa titik kering yang sudah dikenal. Namun justru dari langkah-langkah kecil itulah jaringan pencegahan karhutla di tingkat paling bawah terbentuk—diperkuat oleh kerangka Destana yang menjadikan desa sebagai garda terdepan ketangguhan bencana.
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bertahan, jawaban Yandri sederhana. Tujuannya tidak berubah sejak awal, yakni memastikan Desa Pematang Rahim bebas dari kebakaran dan mendukung terwujudnya Indonesia tanpa karhutla.
“Api boleh padam, semangat jangan pernah padam.” Itulah kalimat yang menjadi napas perjuangan Yandri dan para relawan MPA di Desa Pematang Rahim, yang bekerja di bawah payung Destana untuk desa yang lebih tangguh menghadapi bencana. (*)

