Mendahara Ulu — Panas menyengat menyambut langkah Yandri pagi itu. Bersama anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Pematang Rahim, ia kembali menyusuri titik-titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya. Sepatu bot dan pompa punggung sudah menjadi pemandangan biasa bagi warga desa, terutama saat musim kemarau datang.
Yandri bukanlah petugas pemadam kebakaran berseragam lengkap. Ia adalah anggota MPA Desa Pematang Rahim, relawan desa yang setiap hari memantau, mencegah, dan menangani karhutla di wilayahnya sendiri. Dedikasinya membuatnya dikenal di kalangan warga sebagai sosok yang tak pernah lelah mengingatkan bahaya membuka lahan dengan cara membakar.
“Target kami jelas, memantau dan mendeteksi dini titik api di wilayah Desa Pematang Rahim,” ujar Yandri di sela patroli. “Kalau ada kejadian, kami harus langsung turun tangan sebelum api membesar.”
MPA, Garda Terdepan di Tingkat Desa
Masyarakat Peduli Api adalah kelompok relawan desa yang dibentuk untuk membantu pencegahan dan penanganan karhutla. Anggotanya adalah warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan atau lahan gambut, dibekali pelatihan dasar pemadaman serta peralatan sederhana.
Tugas mereka mencakup patroli rutin, pemadaman dini, hingga sosialisasi kepada warga. Dalam pedoman teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, MPA merupakan bagian resmi dari prosedur pemadaman mandiri karhutla, bekerja bersinergi dengan Manggala Agni, BPBD, dan instansi terkait lainnya.
Di Desa Pematang Rahim, Yandri menjadi salah satu penggerak utama. Hampir setiap hari ia bersama rekan-rekan MPA berkeliling memeriksa titik-titik yang dianggap rawan, terutama lahan gambut yang mudah terbakar saat cuaca panas berkepanjangan.
Destana, Payung Ketangguhan Desa
Peran MPA Desa Pematang Rahim tak bisa dilepaskan dari keberadaan Destana, atau Desa Tangguh Bencana. Destana adalah program penguatan kapasitas desa dalam menghadapi berbagai ancaman bencana, termasuk karhutla, yang difasilitasi oleh BPBD dan mitra terkait.
Melalui Destana, Desa Pematang Rahim didorong memiliki kelembagaan penanggulangan bencana di tingkat desa, rencana aksi, jalur evakuasi, sistem peringatan dini, serta peningkatan kapasitas warga. MPA menjadi salah satu pilar penting dalam struktur Destana, khususnya untuk ancaman karhutla dan kabut asap.
“Dengan adanya Destana, kerja-kerja kami di MPA jadi lebih terarah. Ada struktur, ada rencana, ada koordinasi yang jelas dengan pemerintah desa dan BPBD,” tambah Yandri.
Destana juga memastikan bahwa upaya pencegahan tidak berhenti pada satu orang atau satu kelompok saja. Seluruh elemen desa—pemerintah desa, BPD, karang taruna, kelompok tani, hingga ibu-ibu PKK—dilibatkan dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Tantangan Lahan Gambut
Karhutla di lahan gambut punya karakter yang berbeda dari kebakaran biasa. Api bisa membara di bawah permukaan tanah selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Dari luar, asap mungkin terlihat tipis, tetapi di bawah permukaan suhu masih sangat tinggi.
Kondisi ini menuntut pendekatan khusus. Petugas tidak bisa hanya menyemprotkan air dari atas. Mereka harus membuka lapisan gambut untuk menemukan dan memadamkan sumber api yang tersembunyi. Penanganan seperti ini membutuhkan tenaga ekstra, ketelitian, dan kesabaran.
Di sinilah dedikasi Yandri diuji. Peralatan MPA Desa Pematang Rahim tergolong sederhana, hanya pompa punggung, alat pemukul, dan sumber air terbatas. Sementara wilayah pantau mereka mencakup hamparan gambut dan perkebunan warga yang luas.
“Api Boleh Padam, Semangat Jangan Pernah Padam”
Semboyan itu menjadi pegangan Yandri. Api bisa dipadamkan dengan air dan tenaga, tetapi semangat untuk terus menjaga wilayah dari karhutla tidak boleh ikut padam.
Ia meyakini pencegahan selalu lebih baik daripada pemadaman. Karena itu, sosialisasi kepada warga terus dilakukan, terutama saat musim kemarau tiba. Warga diajak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan diminta segera melapor jika melihat titik api.
“Kami terus melakukan sosialisasi, karena sekarang sudah masuk musim kemarau. Suhu panas yang berkepanjangan bisa memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Yandri.
Beban Kerja yang Tak Ringan
MPA memang menjadi ujung tombak pencegahan karhutla, tetapi kondisi kerja mereka tidak selalu ideal. Banyak MPA masih beroperasi tanpa peralatan lengkap, pelatihan berkala, atau pengakuan hukum yang jelas di tingkat desa dan kecamatan. Anggota umumnya bekerja secara sukarela, digerakkan oleh rasa memiliki terhadap tanah kelahiran dan hubungan baik antarwarga.
Di sinilah peran Destana menjadi krusial. Dengan payung Destana, keberadaan MPA dapat lebih diakui, didukung, dan diintegrasikan dalam kebijakan penanggulangan bencana di tingkat desa. Destana juga membuka akses terhadap pelatihan, bantuan peralatan, dan pendampingan dari BPBD serta instansi terkait.
Sementara itu, situasi karhutla secara nasional justru semakin berat. Data menunjukkan luas area terbakar pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.004 hektare, naik sekitar 69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah pun menyebut karhutla sebagai bentuk “terorisme ekologi”, menandakan betapa seriusnya persoalan ini.
Di tengah gambaran besar yang suram itu, apa yang dilakukan Yandri dan MPA Desa Pematang Rahim mungkin tampak kecil. Satu patroli hanya melintasi beberapa kilometer jalan tanah, menegur beberapa warga, dan memeriksa beberapa titik kering yang sudah dikenal. Namun justru dari langkah-langkah kecil itulah jaringan pencegahan karhutla di tingkat paling bawah terbentuk—diperkuat oleh kerangka Destana yang menjadikan desa sebagai garda terdepan ketangguhan bencana.
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bertahan, jawaban Yandri sederhana. Tujuannya tidak berubah sejak awal, yakni memastikan Desa Pematang Rahim bebas dari kebakaran dan mendukung terwujudnya Indonesia tanpa karhutla.
“Api boleh padam, semangat jangan pernah padam.” Itulah kalimat yang menjadi napas perjuangan Yandri dan para relawan MPA di Desa Pematang Rahim, yang bekerja di bawah payung Destana untuk desa yang lebih tangguh menghadapi bencana. (*)

