Di sinilah dedikasi Yandri diuji. Peralatan MPA Desa Pematang Rahim tergolong sederhana, hanya pompa punggung, alat pemukul, dan sumber air terbatas. Sementara wilayah pantau mereka mencakup hamparan gambut dan perkebunan warga yang luas.

“Api Boleh Padam, Semangat Jangan Pernah Padam”

Semboyan itu menjadi pegangan Yandri. Api bisa dipadamkan dengan air dan tenaga, tetapi semangat untuk terus menjaga wilayah dari karhutla tidak boleh ikut padam.

Ia meyakini pencegahan selalu lebih baik daripada pemadaman. Karena itu, sosialisasi kepada warga terus dilakukan, terutama saat musim kemarau tiba. Warga diajak untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan diminta segera melapor jika melihat titik api.

“Kami terus melakukan sosialisasi, karena sekarang sudah masuk musim kemarau. Suhu panas yang berkepanjangan bisa memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” ujar Yandri.

Beban Kerja yang Tak Ringan

MPA memang menjadi ujung tombak pencegahan karhutla, tetapi kondisi kerja mereka tidak selalu ideal. Banyak MPA masih beroperasi tanpa peralatan lengkap, pelatihan berkala, atau pengakuan hukum yang jelas di tingkat desa dan kecamatan. Anggota umumnya bekerja secara sukarela, digerakkan oleh rasa memiliki terhadap tanah kelahiran dan hubungan baik antarwarga.

Di sinilah peran Destana menjadi krusial. Dengan payung Destana, keberadaan MPA dapat lebih diakui, didukung, dan diintegrasikan dalam kebijakan penanggulangan bencana di tingkat desa. Destana juga membuka akses terhadap pelatihan, bantuan peralatan, dan pendampingan dari BPBD serta instansi terkait.