Memahami penyebab perilaku tersebut bukan berarti membenarkannya. Sebaliknya, orang tua dapat membantu anak menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi masalah dan mengekspresikan perasaan.

3. Ajarkan Cara Berteman yang Baik

Anak perlu mengetahui perilaku seperti apa yang diharapkan dari mereka. Daripada hanya mengatakan “jangan menjadi pelaku bullying”, berikan contoh tindakan yang dapat dilakukan.

Misalnya, ajarkan anak untuk mengajak teman bermain, menggunakan kata-kata yang sopan, menghargai pendapat orang lain, dan tidak sengaja mengucilkan teman.

Contoh konkret akan membantu anak memahami bagaimana memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

4. Ajarkan Anak Memahami Perasaan Orang Lain

Bantu anak melihat suatu situasi dari sudut pandang orang yang menjadi sasaran bullying.

Orang tua dapat bertanya apakah anak pernah merasa sedih, malu, takut, atau tersisih ketika diperlakukan tidak baik. Kemudian, jelaskan bahwa teman yang menjadi sasaran bullying juga dapat merasakan hal serupa.

Cara ini dapat membantu anak mengembangkan empati dan memahami dampak perilakunya terhadap orang lain.

5. Ciptakan Contoh yang Baik di Rumah

Anak banyak belajar dari perilaku orang-orang di sekitarnya. Jika mereka sering melihat teriakan, hinaan, ejekan, atau kekerasan ketika terjadi konflik di rumah, perilaku tersebut berpotensi ditiru.

Karena itu, orang tua perlu menunjukkan cara berkomunikasi dan menyelesaikan masalah dengan tenang. Hindari memanggil anak dengan sebutan yang merendahkan atau menggunakan kekerasan sebagai bentuk disiplin.

6. Ajarkan untuk Menghargai Perbedaan

Anak perlu memahami bahwa perbedaan penampilan, kemampuan, kondisi ekonomi, agama, suku, maupun latar belakang bukan alasan untuk mengejek atau merendahkan seseorang.