Helikopter diterbangkan dan water bombing dilakukan dengan biaya yang tidak sedikit.
Artinya, ketika keadaan sudah darurat, kita sepakat pada satu hal:
gambut membutuhkan air.
Lalu mengapa kita menunggu gambut terbakar untuk sibuk menghadirkan air?
Mengapa air tidak dipersiapkan jauh sebelum puncak musim kemarau?
Inilah perubahan paradigma yang diperlukan.
Kita harus berpindah dari fire management menuju water management.
Jangan menunggu hotspot muncul untuk kemudian memburu sumber air. Seharusnya sejak musim hujan pemerintah sudah mengetahui di mana cadangan air tersedia, ke mana air harus dialirkan, bagaimana tinggi muka air tanah dipertahankan, dan zona mana yang akan mengalami kekeringan paling cepat ketika kemarau datang.
Londerang Layak Menjadi Laboratorium Hidrologi Gambut
HLG Londerang justru dapat dijadikan proyek percontohan nasional.
Penelitian akademik telah dilakukan di kawasan ini. Restorasi juga bukan hal baru. Sejak setelah kebakaran 2015, berbagai intervensi pembasahan telah dilakukan, termasuk pembangunan sekat kanal dan sumur bor di bentang alam gambut Jambi.
Tetapi jika kebakaran kembali terjadi, kita tidak boleh puas hanya dengan mengulang pendekatan lama.
Pemerintah bersama perguruan tinggi, ahli hidrologi, masyarakat, Manggala Agni dan para pihak di sekitar kawasan perlu melakukan audit hidrologis menyeluruh HLG Londerang.
Petakan seluruh kanal.
Petakan elevasi gambut.
Petakan sungai dan sumber air permanen.
Ukur debit sungai pada puncak kemarau.
Identifikasi zona yang paling cepat kehilangan air.
Pasang sistem monitoring tinggi muka air tanah secara real-time.
Dari data tersebut baru dirancang infrastruktur pembasahan adaptif.
Bisa berupa sekat kanal, embung, pintu air, pompa, jaringan distribusi air atau teknologi lain yang secara ilmiah terbukti mampu mempertahankan kebasahan gambut.

