Namun, ia menegaskan hubungan tersebut tidak memengaruhi proses penjurian. Indra mengaku tetap bersikap netral dan tidak berpihak dalam memberikan penilaian.

“Dalam penjurian, saya netral dan tidak berpihak karena semuanya adalah pendamping yang berlatar belakang kesenian,” katanya.

Adanya hubungan keluarga tersebut tidak serta-merta membuktikan adanya keberpihakan dalam penjurian. Namun, informasi itu tetap menjadi bagian yang perlu dijelaskan secara transparan, terutama terkait mekanisme pencegahan konflik kepentingan dalam proses penilaian.

Dua Juri Belum Memberikan Tanggapan

Sementara itu, ketika polemik terus bergulir, dua anggota dewan juri lainnya, Azhar dan Zulkarnain, telah dikonfirmasi terkait persoalan tersebut.

Namun hingga berita ini ditulis, keduanya belum memberikan tanggapan.

Sikap serupa juga ditunjukkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi yang belum memberikan keterangan terkait polemik tersebut.
Kondisi ini kemudian menjadi perhatian Aktivis Tebo Jambi, Ahmad Firdaus.

Menurut Ahmad, pihak yang memiliki kewenangan dalam penyelenggaraan dan penjurian seharusnya memberikan penjelasan kepada publik.

Ia mengingatkan agar polemik tersebut tidak justru berdampak terhadap pembentukan karakter peserta didik.

“Jangan sampai apa yang terjadi pada lomba tersebut membunuh karakter anak didik,” ujar Ahmad.

Ia menilai FLS3N bukan sekadar persoalan siapa yang memperoleh piala, tetapi juga merupakan bagian dari proses pendidikan.

“Seharusnya mereka menjelaskan itu kepada publik. Jangan hanya diam, ini menyangkut karakter anak-anak,” tegasnya.