JAKARTA — Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kembali menyeberangi perbatasan. Kali ini, dampaknya terasa langsung di Sarawak, Malaysia: 591 sekolah di 10 distrik sempat ditutup dan 197.323 siswa terdampak.

Penutupan dilakukan pada 20–21 Agustus 2026 sebagai langkah perlindungan terhadap siswa dan tenaga pendidikan setelah kualitas udara memburuk.

Kebijakan tersebut mencakup 509 sekolah dasar dan 82 sekolah menengah, dengan pembelajaran dialihkan ke rumah.
Wilayah yang terdampak meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong. Serian menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karena letaknya berdekatan dengan perbatasan Kalimantan Barat.

Situasi ini memperlihatkan bahwa karhutla Indonesia bukan lagi sekadar persoalan domestik. Asap yang terbawa angin telah berubah menjadi masalah lintas negara, mengganggu pendidikan dan aktivitas masyarakat di negara tetangga.

Di Sarawak, kualitas udara sempat masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Pada periode tersebut, warga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan mengambil langkah perlindungan dari paparan asap.

Dampak serupa juga terasa di Indonesia. Asap tebal di sejumlah wilayah Kalimantan menurunkan jarak pandang, mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pernapasan.

Pemerintah Indonesia pun memperkuat operasi pemadaman darat dan udara di wilayah yang dilanda kebakaran.
Persoalannya bukan hanya seberapa luas lahan yang terbakar, tetapi seberapa jauh dampaknya merambat. Ketika ratusan sekolah di Malaysia harus menghentikan pembelajaran tatap muka, karhutla telah berubah menjadi krisis yang melewati batas administratif Indonesia.

Kondisi kering dan pola El Niño turut memperbesar risiko kebakaran. Namun, faktor cuaca bukan satu-satunya persoalan. Aparat Indonesia juga tengah menyelidiki dugaan pembakaran dan pembukaan lahan secara ilegal. Sebanyak 72 orang telah ditangkap terkait dugaan keterlibatan dalam kebakaran di sejumlah wilayah.

Sekolah-sekolah di Sarawak kemudian kembali beroperasi pada 24 Agustus setelah indeks pencemaran udara menunjukkan kondisi yang memungkinkan untuk pembukaan kembali. Namun, ancaman belum sepenuhnya hilang selama titik api di Kalimantan dan wilayah lain masih muncul.
Kabut asap ini kembali menjadi pengingat bahwa api di satu sisi perbatasan dapat menjadi masalah bagi jutaan orang di sisi lainnya.

Tanpa pencegahan dan penegakan hukum yang lebih kuat terhadap pembakaran lahan, persoalan yang sama berpotensi kembali berulang setiap musim kemarau.