Diakui sebagai Warisan Budaya

Kini, cuka tradisional tersebut telah diakui sebagai warisan budaya tak benda di sejumlah wilayah Guangdong, termasuk Distrik Huadu, Guangzhou.

Salah satu pewaris resmi tradisi pembuatan cuka tersebut, Huang Weihua, menjelaskan proses pembuatannya menggunakan beras patah yang terlebih dahulu ditumis selama lebih dari 40 menit hingga berwarna keemasan.

Beras kemudian dimasukkan ke dalam tempayan berisi air dan difermentasi selama sekitar tiga bulan hingga menghasilkan aroma khas yang sangat kuat.

Dipercaya Bermanfaat bagi Kesehatan

Dalam pengobatan tradisional setempat, cuka dipercaya dapat membantu meningkatkan nafsu makan, melancarkan pencernaan, meredakan stasis darah, hingga membantu proses detoksifikasi tubuh.

Khusus “cuka bau kentut”, masyarakat juga meyakini bahan tersebut dapat membantu mengurangi rasa panas dan kelelahan saat musim panas.

Secara turun-temurun, cuka ini juga kerap dimasak bersama kaki babi, jahe, dan telur untuk dikonsumsi ibu setelah melahirkan sebagai bagian dari proses pemulihan masa nifas.

Kisah Viral di Media Sosial

Cerita Chen menarik perhatian banyak pengguna media sosial.

Sejumlah warganet mengaku pernah mengalami kejadian serupa karena aroma cuka tersebut memang sangat menyengat.

“Cuka panjang umur itu baunya sangat menyengat. Anak saya pernah memasak ceker ayam dengan cuka itu, dan jari-jarinya berbau tak sedap setelahnya,” tulis seorang warganet.

Warganet lainnya bahkan mengaku pernah diperingatkan tetangga setelah memasak cuka tersebut di rumahnya.

“Saya pernah memasak cuka yang baunya menyengat di rumah saya di Shenzhen. Tetangga saya mengingatkan saya, jika saya melakukannya lagi, mereka akan memberi saya pelajaran,” tulis pengguna media sosial lainnya.