Jenis-Jenis Co-Parenting

Peneliti mengidentifikasi beberapa pola hubungan co-parenting yang umum diterapkan setelah perceraian atau perpisahan.

1. Conflict Co-Parenting

Conflict co-parenting ditandai dengan konflik yang masih sering terjadi antara kedua orang tua.

Komunikasi biasanya kurang efektif dan masing-masing pihak menerapkan aturan, jadwal, maupun pola asuh yang berbeda.

Kondisi ini dapat membuat anak merasa berada di tengah konflik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan berisiko meningkatkan kecemasan, depresi, tekanan psikologis, hingga masalah perilaku pada anak.

2. Cooperative Co-Parenting

Cooperative co-parenting merupakan bentuk pengasuhan bersama yang paling ideal.

Dalam pola ini, kedua orang tua mampu berkomunikasi dengan baik, saling berbagi informasi mengenai perkembangan anak, serta bersama-sama mengambil keputusan penting.

Anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan ini umumnya merasakan lingkungan yang lebih stabil dan konsisten.

Penelitian juga menunjukkan cooperative co-parenting berkaitan dengan meningkatnya rasa percaya diri, prestasi akademik yang lebih baik, serta kesehatan mental yang lebih positif.

3. Parallel Co-Parenting

Parallel co-parenting terjadi ketika kedua orang tua menjalankan pengasuhan secara terpisah dengan komunikasi yang sangat terbatas.

Meski konflik terbuka dapat diminimalkan, koordinasi di antara keduanya juga relatif sedikit.

Aturan dan rutinitas di masing-masing rumah sering kali berbeda sehingga anak perlu beradaptasi dengan dua lingkungan yang tidak selalu sama.

Model ini kerap dipilih apabila komunikasi langsung justru berpotensi memicu konflik yang lebih besar.

Bentuk co-parenting juga dapat berubah seiring waktu. Hubungan yang awalnya dipenuhi konflik dapat berkembang menjadi lebih kooperatif apabila kedua orang tua sama-sama mengutamakan kepentingan anak.