Jakarta — Co-parenting menjadi pola pengasuhan yang semakin banyak diterapkan setelah perceraian atau berakhirnya hubungan orang tua. Meski tidak lagi hidup sebagai pasangan, ayah dan ibu tetap memiliki tanggung jawab bersama dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Namun, menjaga komunikasi dan kerja sama setelah perpisahan tidak selalu mudah. Padahal, anak tetap membutuhkan dukungan emosional, kasih sayang, dan kehadiran kedua orang tuanya.

Cara orang tua menghadapi perubahan dalam keluarga juga berpengaruh terhadap kondisi psikologis anak. Karena itu, memahami konsep co-parenting menjadi langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, stabil, dan mendukung bagi perkembangan anak.

Mengutip Verywell Mind, berikut pengertian, jenis, serta tips menerapkan co-parenting yang sehat.

Apa Itu Co-Parenting?

Co-parenting adalah pola pengasuhan ketika kedua orang tua tetap bekerja sama membesarkan anak meski tidak lagi menikah atau menjalin hubungan romantis.

Dalam sistem ini, kedua orang tua berbagi tanggung jawab terkait pendidikan, kesehatan, kebutuhan emosional, hingga aktivitas sehari-hari anak.

Fokus utama co-parenting bukan mempertahankan hubungan sebagai mantan pasangan, melainkan memastikan kebutuhan dan kesejahteraan anak tetap terpenuhi.

Psikolog klinis Sabrina Romanoff menjelaskan bahwa hubungan yang kooperatif dan saling menghormati setelah perpisahan dapat memberikan contoh positif bagi anak.

Sikap tersebut membantu anak merasa lebih aman sekaligus mendukung perkembangan sosial maupun emosionalnya dalam jangka panjang.