Pengalaman berbagai daerah menunjukkan bahwa pembangunan industri tidak otomatis menciptakan transformasi ekonomi yang inklusif. Dalam banyak kasus, industri mampu tumbuh, tetapi masyarakat lokal hanya berperan pada lapisan ekonomi dengan produktivitas rendah karena keterampilan yang dimiliki belum berkembang seiring kebutuhan sektor yang sedang tumbuh. Akibatnya, nilai tambah ekonomi memang tercipta di daerah, namun kemampuan untuk menguasai dan mengembangkan nilai tambah tersebut masih terbatas.
Karena itu, tantangan utama pembangunan ke depan bukan hanya menghadirkan investasi atau memperluas infrastruktur ekonomi, melainkan memastikan bahwa masyarakat lokal memiliki kapasitas yang memadai untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut. Transformasi ekonomi yang berkelanjutan mensyaratkan hadirnya SDM yang mampu beradaptasi dengan teknologi, memahami standar produksi yang semakin modern, mengelola usaha secara lebih profesional, serta menangkap peluang yang lahir dari berkembangnya rantai nilai industri.
Dalam perspektif jangka panjang, daya saing suatu daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam atau besarnya investasi yang masuk, tetapi oleh kemampuan manusianya dalam mengelola, mengembangkan, dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut. Di situlah pembangunan manusia menjadi investasi strategis yang menentukan keberhasilan transformasi ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Karena itu, penguatan pendidikan vokasi menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Ketersediaan SMK, balai latihan kerja, program sertifikasi kompetensi, pendidikan berbasis industri, hingga pelatihan kewirausahaan harus mulai dihubungkan secara lebih konkret dengan kebutuhan sektor-sektor potensial daerah. Hilirisasi kelapa, sawit, perikanan, logistik pelabuhan, dan industri pengolahan hasil laut memerlukan kompetensi yang berbeda dari pola ekonomi primer yang selama ini mendominasi.

