Di sinilah pembangunan sumber daya manusia menjadi faktor yang sangat menentukan. Hilirisasi pada hakikatnya bukan sekadar proses mengubah bahan mentah menjadi produk jadi, tetapi juga proses mengubah kapasitas masyarakat dari produsen komoditas menjadi pelaku ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah. Tanpa transformasi SDM, hilirisasi berisiko hanya menghasilkan bangunan industri baru tanpa mengubah posisi masyarakat lokal dalam struktur ekonomi.
Pertanyaan mendasarnya bukan hanya berapa banyak pabrik yang dapat dibangun atau berapa besar investasi yang dapat masuk ke daerah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah siapa yang akan mengoperasikan industri tersebut, siapa yang akan mengelola rantai pasoknya, siapa yang akan mengembangkan inovasinya, dan siapa yang pada akhirnya menikmati nilai tambah yang tercipta dari proses hilirisasi tersebut.
Data pembangunan manusia menunjukkan bahwa kedua daerah sebenarnya telah mengalami kemajuan. Badan Pusat Statistik mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tanjung Jabung Barat tahun 2024 mencapai 72,01 atau meningkat 0,57 poin dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun yang sama, Harapan Lama Sekolah (HLS) mencapai 12,68 tahun, Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) mencapai 8,32 tahun, dan Umur Harapan Hidup (UHH) mencapai 73,41 tahun. Tren tersebut menunjukkan bahwa kualitas pembangunan manusia terus bergerak ke arah yang lebih baik (BPS Tanjung Jabung Barat).
Kabupaten Tanjung Jabung Timur juga menunjukkan perkembangan pembangunan manusia yang positif. Meskipun demikian, karakter wilayah pesisir yang luas, sebaran penduduk yang relatif terpencar, serta dominasi aktivitas ekonomi primer masih menghadirkan tantangan tersendiri dalam peningkatan kualitas SDM. Pembangunan manusia tidak lagi cukup diukur dari peningkatan indikator pendidikan dan kesehatan semata, tetapi juga dari kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap perubahan struktur ekonomi yang semakin kompleks (BPS Tanjung Jabung Timur).

