Di samping keduanya, pasar tentu menunggu mega IPO dari gabungan SpaceX–xAI milik Elon Musk. Musk telah membangun struktur perusahaan yang dianggap paling berani dalam teknologi modern. Pada Februari lalu, ia menggabungkan SpaceX—perusahaan kedirgantaraannya—dengan xAI, perusahaan AI yang terhubung dengan platform media sosial X, untuk menciptakan konglomerat bernilai triliunan dolar AS.
Konglomerasi tersebut menggabungkan penyedia peluncuran orbital terkemuka di dunia, laboratorium AI terdepan, serta platform media sosial global dalam satu entitas bisnis.
Entitas gabungan itu awalnya menargetkan IPO paling cepat pada Juni dengan valuasi yang menurut sejumlah sumber mencapai 1,5 triliun dolar AS. Spekulasi semakin menguat karena mereka diduga akan segera melantai di bursa dalam waktu dekat.
Valuasi Riil
Rencana IPO dan valuasi yang terkesan gila-gilaan membuat publik ingin memastikan bahwa nilai perusahaan tersebut benar-benar riil dan bukan sekadar angka di atas kertas. Valuasi yang ada kerap dinilai tidak rasional. Bahkan, tidak sedikit yang menduga semua itu hanyalah bentuk penggelembungan nilai tanpa didukung alasan bisnis yang memadai.
Publik pernah mengalami trauma terhadap kasus serupa. Beberapa tahun lalu, persoalan ini muncul pada perusahaan WeWork. Menjelang IPO, para analis mulai meragukan valuasi perusahaan tersebut. Mereka kemudian memberikan penilaian negatif sehingga valuasinya anjlok drastis. Hingga kini, perusahaan tersebut belum sepenuhnya bangkit.
Sejumlah kalangan kembali memperingatkan kemungkinan sektor AI membentuk gelembung ekonomi karena valuasi yang tidak realistis. Jika gelembung tersebut pecah, bukan hanya valuasi perusahaan yang jatuh, tetapi juga dapat mengganggu perekonomian secara lebih luas.

