Penulis
1. Amalia Marshanda
2. Reynlen Febrini Rezeki Tobing
3. Tesalonika Nainggolan
Prodi: Ilmu Politik Universitas Jambi
Dalam beberapa minggu terakhir, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS mengalami ketidakstabilan yang cukup tajam dengan kecenderungan melemah. Rupiah awalnya berada di kisaran Rp17.719 pada pertengahan Mei, tetapi terus jatuh nilainya hingga menembus titik terlemahnya sejak krisis moneter tahun 1998, yaitu Rp18.171, pada 8 Juni 2026.
Memandang salah satu permasalahan utama dari beberapa permasalahan besar di Indonesia saat ini, perlunya kita untuk mengkaji melalui kacamata teoritis. Perspektif William F. Ogburn dalam Teori _Cultural Lag_ (Ketertinggalan budaya) diperkenalkan oleh sosiolog berkebangsaan Amerika ini pada tahun 1992. Ogburn mengemukakan bahwa pola-pola sosial dan organisasi cenderung tertinggal dari perubahan budaya material, dan perubahan sosial ditandai oleh ketegangan antara budaya material yang lebih maju dengan budaya non-material yang tertinggal. Budaya material mencakup hal-hal yang bersifat fisik dan nyata seperti teknologi dan sistem ekonomi, sementara budaya non-material mencakup nilai, norma, hukum, dan perilaku masyarakat.
Kenaikan nilai Dolar merupakan perubahan pada tatanan material, yaitu pergeseran cepat dalam sistem ekonomi global yang memengaruhi harga barang dan daya beli masyarakat. Di sisi lain, respons non-material seperti kebijakan pemerintah, regulasi, dan perilaku masyarakat jauh lebih lambat mengikutinya. Kondisi ini menimbulkan maladjustment, yaitu ketidaksesuaian yang membutuhkan masa penyesuaian panjang.
Akibatnya, muncul berbagai gejolak sosial seperti kepanikan pasar, protes akibat naiknya harga kebutuhan pokok, dan meningkatnya ketimpangan ekonomi. Dari sini kita dapat katakan bahwa dari Teori Cultural Lag ketika perubahan ekonomi berlari terlalu cepat meninggalkan kesiapan sosial dan kelembagaan masyarakat.
Pelemahan nilai Rupiah terhadap Dolar AS bukan hanya menjadi permasalahan ekonomi, tetapi juga memengaruhi kehidupan sosial dan dinamika politik Indonesia. Dampaknya akan merambat ke berbagai sektor dan berpotensi mengubah perilaku masyarakat, hubungan antara negara dan warga, hingga stabilitas politik.
*Dampak Sosial dan Politik oleh pelemahan nilai Rupiah*
1. Menurunnya Daya Beli Masyarakat
Pelemahan Rupiah menyebabkan harga bahan baku dan barang impor menjadi lebih mahal. Hal ini mengakibatkan harga berbagai kebutuhan pokok, elektronik, obat-obatan, hingga bahan bakar dapat meningkat. Kenaikan harga tersebut menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
2. Meningkatnya Ketimpangan Sosial
Kelompok masyarakat yang memiliki aset dalam mata uang asing atau bekerja di sektor ekspor mungkin memperoleh keuntungan dari pelemahan Rupiah. Sebaliknya, masyarakat yang bergantung pada pendapatan tetap justru mengalami penurunan kesejahteraan. Kondisi ini dapat mempertebal kesenjangan sosial dan ekonomi.
3. Bertambahnya Angka Kemiskinan
Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara pendapatan tidak meningkat secara proporsional, sebagian masyarakat dapat terdorong masuk ke dalam kategori miskin atau rentan miskin.
4. Meningkatnya Ketidakpuasan Publik
Kesulitan ekonomi yang dirasakan masyarakat dapat memunculkan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Mereka akan mengeluhkan mengenai harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, biaya kesehatan, hingga masalah ketersediaan lapangan kerja.
5. Perubahan Pola Konsumsi Masyarakat
Masyarakat cenderung mengurangi konsumsi barang impor dan beralih ke produk lokal yang lebih murah. Di satu sisi hal ini dapat mendorong industri domestik, tetapi di sisi lain juga dapat menurunkan kualitas konsumsi jika produk substitusi belum mampu memenuhi kebutuhan yang sama.
6. Menurunnya Kepercayaan terhadap Pemerintah
Stabilitas nilai tukar sering dijadikan indikator kemampuan pemerintah dalam mengelola ekonomi. Jika Rupiah terus melemah dan pemerintah dianggap gagal mengendalikan situasi, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dapat menurun.
7. Munculnya Demonstrasi
Jika pelemahan Rupiah menyebabkan inflasi tinggi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, masyarakat dapat melakukan aksi protes atau demonstrasi. Gejolak ekonomi sering kali menjadi pemicu mobilisasi massa dan gerakan sosial.
8) Meningkatnya Tekanan terhadap Bank Sentral
Rupiah yang melemah nilainya sering memunculkan tuntutan agar bank sentral menaikkan suku bunga atau melakukan intervensi pasar valuta asing. Kebijakan tersebut dapat menimbulkan perdebatan politik karena memiliki konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi dan investasi.
Dalam upaya penguatan nilai Rupiah diperlukannya kombinasi kebijakan moneter, fiskal, perdagangan, dan reformasi struktural yang mampu meningkatkan kepercayaan investor serta memperbesar pasokan devisa. Saat ini, tekanan terhadap Rupiah berasal dari penguatan Dolar global, arus keluar modal asing, ketidakpastian geopolitik, dan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi domestik. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) telah berupaya dalam menaikkan suku bunga dan melakukan berbagai intervensi untuk menstabilkan rupiah.
Berikut strategi yang diperlukan dalam upaya penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
1. Memperkuat Kepercayaan Investor melalui Stabilitas Politik dan Regulasi
Salah satu faktor yang paling memengaruhi nilai tukar adalah kepercayaan pasar. Pemerintah perlu menghindari perubahan regulasi yang mendadak, meningkatkan transparansi pengelolaan anggaran, serta menjaga independensi lembaga ekonomi seperti Bank Indonesia.
2. Mengurangi Ketergantungan Impor
Indonesia masih sangat bergantung pada impor barang modal, bahan baku industri, BBM, dan beberapa komoditas strategis. Ketika impor tinggi, kebutuhan Dolar meningkat sehingga menekan Rupiah.
3. Menjaga Inflasi Tetap Rendah
Negara dengan inflasi tinggi biasanya mengalami pelemahan mata uang. Oleh karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia harus menjaga stabilitas harga pangan, energi, dan transportasi.
4. Membangun Narasi yang Kredibel
Komunikasi yang konsisten antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan dapat mengurangi kepanikan pasar ketika rupiah melemah. Transparansi kebijakan dan penyampaian data ekonomi yang jelas dapat membantu menjaga kepercayaan investor.
Secara keseluruhan, pelemahan nilai Rupiah terhadap Dolar AS menunjukkan bahwa persoalan ekonomi dapat berdampak luas pada kehidupan sosial dan politik masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan langkah yang terintegrasi melalui kebijakan ekonomi yang tepat, stabilitas politik, dan komunikasi publik yang kredibel agar nilai Rupiah dapat diperkuat sekaligus menjaga stabilitas sosial dan politik nasional.

