Mereka berusaha menambahkan banyak informasi agar ceritanya terdengar lebih meyakinkan. Dalam beberapa kasus, mereka juga bisa terlihat mengoreksi atau mengubah bagian cerita di tengah percakapan.

4. Jarang Menggunakan Kata Ganti Orang Pertama

Menurut Science of People, orang yang berkata jujur biasanya lebih sering menggunakan kata ganti orang pertama seperti “saya” atau “aku” ketika menjelaskan sesuatu.

Sebaliknya, orang yang berbohong cenderung menjaga jarak dari pernyataannya dengan menggunakan kalimat yang lebih umum atau normatif. Misalnya, mereka lebih memilih mengatakan bahwa suatu perilaku adalah hal yang biasa dilakukan banyak orang daripada mengakui tindakan mereka sendiri.

5. Sulit Memberikan Penilaian yang Bersifat Abstrak

Saat seseorang menciptakan cerita yang tidak benar, sebagian besar fokusnya digunakan untuk menjaga konsistensi cerita tersebut. Akibatnya, mereka lebih mudah memberikan jawaban yang konkret dan sederhana dibandingkan penjelasan yang bersifat reflektif atau abstrak.

Mereka biasanya hanya menyampaikan fakta-fakta dasar tanpa mampu menggambarkan suasana, perasaan, atau penilaian yang lebih mendalam terhadap suatu peristiwa.

6. Terlalu Sering Menggunakan Emoji sebagai Jawaban

Penggunaan emoji memang menjadi hal yang lumrah dalam percakapan digital. Namun, ketika seseorang terus-menerus menggunakan emoji untuk menjawab pertanyaan penting, hal itu bisa menjadi tanda bahwa ia sedang menghindari jawaban yang jelas.

Misalnya, pertanyaan terkait tanggung jawab atau pekerjaan hanya dibalas dengan emoji jempol, senyum, atau tertawa tanpa penjelasan yang tegas.