Surabaya — Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, mengungkap alasan partainya tetap konsisten mendukung Prabowo Subianto selama 15 tahun terakhir atau dalam tiga kali pemilihan presiden (Pilpres).
Menurut Zulhas, sapaan akrab Zulkifli Hasan, keputusan PAN untuk terus berada di barisan Prabowo bukan tanpa risiko. Bahkan, kata dia, sejumlah kader PAN di daerah harus menghadapi konsekuensi politik hingga persoalan hukum akibat sikap politik tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Zulhas saat memberikan arahan dalam Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I dan Pelantikan Pengurus DPW PAN Jawa Timur serta DPD PAN se-Jatim periode 2025–2030 di Jatim Expo, Surabaya, Minggu (10/5) malam.
Dalam sambutannya, Zulhas menyinggung perjalanan panjang PAN bersama Prabowo sejak Pilpres 2014 dan 2019. Ia menyebut konsistensi dukungan itu sempat berdampak pada penurunan elektabilitas partai hingga banyak kader yang memilih pindah partai demi mempertahankan karier politik.
“Kenapa PAN tiga kali dukung Pak Prabowo? Kalah. Bupati-bupati kami, gubernur kami masuk penjara. Kalau enggak masuk penjara pindah [partai]. Partai kami dari [peringkat] nomor 5 turun ke nomor 7, tapi kami konsisten,” kata Zulhas yang kini juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Meski mengalami kekalahan pada Pilpres 2014 dan 2019, Zulhas menegaskan PAN tidak ingin menjadi partai yang mudah berubah arah demi kepentingan kekuasaan semata.
Konsistensi tersebut akhirnya berbuah kemenangan pada Pilpres 2024 yang mengantarkan Prabowo menjadi Presiden ke-8 Republik Indonesia.
“Perjuangan kami dengan Gerindra jatuh bangun luar biasa,” ujar Zulhas.
Ia menilai modal utama PAN adalah kepercayaan dan loyalitas kepada rakyat. Karena itu, PAN disebutnya harus tetap konsisten antara ucapan dan tindakan.
“Karena modal Partai Amanat Nasional adalah kepercayaan dan loyalitas. Kita tidak bisa ngomong A pekerjaan B tidak bisa. Enggak punya wajah kami kalau kita melakukan itu. Iya iya tidak tidak. Kiri-kiri, kanan-kanan enggak boleh,” ujarnya.
“Karena modal Partai Amanat Nasional adalah kesetiaan dan loyalitas. Namanya saja amanah, dipercaya. Jadi itu kita pegang teguh, oleh karena itu keberpihakan kepada rakyat itulah kesetiaan kami,” tambahnya.
Selain faktor loyalitas, Zulhas juga menyebut PAN memiliki kesamaan visi dan cita-cita politik dengan Prabowo. Selama lebih dari satu dekade berkoalisi, ia mengaku banyak belajar dari Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, terutama soal kepemimpinan.
“Kami tiga kali bersama Pak Prabowo karena kesamaan cita-cita, kesamaan kebijakan, kesamaan perjuangan. Nah, ini karena lama sama Pak Prabowo. Jadi, ilmunya yang banyak juga yang saya serap,” katanya.
Zulhas kemudian menjelaskan pandangan Prabowo terkait tipe kepemimpinan. Menurutnya, Prabowo pernah membagi pemimpin dalam beberapa kategori, mulai dari good leader, great leader, hingga brilliant leader.
“Yang terbaik adalah brilliant leader. Apa itu? Pemimpin yang bisa milih orang. Pemimpin yang bisa memilih SDM pengurus-pengurus yang tangguh,” ujar Zulhas.
Ia menilai kemampuan memilih sumber daya manusia (SDM) yang tepat menjadi faktor penting dalam keberhasilan sebuah kepemimpinan.
“Kalau kita mampu memilih orang-orang yang hebat maka logistik akan datang. Siasat dan strategi akan datang. Kalau kita memilih orang yang tidak tepat, logistik lari, siasat lari. Tapi kalau kita memilih orang-orang yang tepat, orang-orang yang bagus, orang-orang yang hebat, logistik, siasat, strategi dengan sendirinya akan datang,” tuturnya.
Di akhir arahannya, Zulhas meminta seluruh pengurus dan kader PAN di Jawa Timur bekerja lebih keras untuk membawa PAN masuk jajaran tiga besar partai politik nasional.
“Ada PDIP, ada Gerindra, ada Golkar, ada PKB, apa bedanya? Bedanya apa kita sama mereka? Kalau yang lain bisa satu besar, bisa dua besar, bisa tiga besar, apakah PAN bisa tiga besar? Kalau teman [partai lain] bisa, InsyaAllah kita bisa,” katanya.
Sebagai informasi, PAN telah mendukung Prabowo sejak Pilpres 2014. Saat itu, PAN mengusung Hatta Rajasa sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo.
Selain menjabat Ketua Umum PAN, Zulhas juga pernah menjadi Ketua MPR RI. Ia juga memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, di antaranya sebagai Menteri Kehutanan pada era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Perdagangan pada masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
