Berdasarkan data Kementerian ESDM, penerapan B50 diproyeksikan dapat menghemat devisa negara hingga Rp157,28 triliun. Selain itu, kebijakan ini juga diperkirakan mampu menciptakan lebih dari 2,2 juta lapangan kerja.

Dari sisi lingkungan, B50 ditargetkan menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada tahun 2026. Hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel nasional telah mencapai 3,90 juta kiloliter atau sekitar 24,9 persen dari total alokasi awal 15,65 juta kiloliter.

Secara teknis, spesifikasi B50 disesuaikan untuk menjaga performa mesin, termasuk penurunan kadar air maksimal 300 ppm dan monogliserida maksimal 0,47 persen massa. Stabilitas oksidasi juga ditingkatkan menjadi minimal 900 menit untuk menjaga kualitas bahan bakar selama penyimpanan dan distribusi.

Pemerintah menargetkan uji coba di sektor otomotif rampung pada Juni 2026, sementara sektor lainnya seperti alat berat dan perkeretaapian akan diselesaikan bertahap hingga akhir tahun. Dengan hasil uji yang dinilai menunjukkan performa baik, B50 diproyeksikan memperkuat kemandirian energi nasional.