Tebo – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten tebo masih menjadi persoalan pelik. Di satu sisi, aktivitas ini merusak lingkungan secara masif. Di sisi lain, ratusan ribu kepala keluarga menggantungkan hidup dari penambangan liar ini.
Ketua umum gerakan mahasiswa kabupaten tebo (GEMAKATO) menyampaikan pandangan tegas namun realistis terkait fenomena PETI. Ia menegaskan, penambangan liar harus ditertibkan dengan cara humanis tanpa ada pihak yang dirugikan, karena dampaknya terhadap masyarakat kecil dan solusi itu tidak bisa sekadar larangan.
“Kalau dilarang, ratusan ribu kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari penambangan ini akan terguncang. Tapi kalau dibiarkan, lingkungan rusak, sumber daya alam kita menguap begitu saja tanpa kontribusi bagi kesejahteraan rakyat, artinya pelaku PETI ini perlu dibimbing dan dikasih solusi tanpa ada yang dirugikan”. ujar Rengki Delfika baru-baru ini.
Menurutnya, pendekatan yang selama ini diterapkan hanya menindak tegas tanpa memberi alternatif, tidak akan berhasil. Ia menggunakan perumpamaan menarik. “Ini seperti makan buah si Malakama. Dilarang, tapi kalau tidak dimakan orang bisa kelaparan. Begitu juga dengan PETI,” ucapnya.
Aktivis GEMAKATO ini menawarkan solusi konkret. Seperti membuat kawasan pertambangan rakyat yang legal dan teratur. Dalam kawasan ini, masyarakat bisa menambang secara terbuka, tetapi dengan izin yang jelas, pengawasan lingkungan, dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.
“Kita harus buat satu regulasi, buat wilayah khusus untuk pertambangan rakyat yang memiliki IPR (Izin Pertambangan Rakyat). Dengan begitu, rakyat bisa bekerja dengan tenang, tidak lagi hidup dalam bayang-bayang operasi penertiban,” jelasnya.

