Jakarta — Saat berolahraga, denyut jantung atau heart rate akan meningkat. Kondisi tersebut merupakan respons normal tubuh karena otot membutuhkan lebih banyak oksigen sehingga jantung harus memompa lebih banyak darah.
Namun, seberapa tinggi denyut jantung yang masih aman saat berolahraga? Pertanyaan ini penting, terutama bagi orang yang mulai rutin berolahraga atau melakukan latihan dengan intensitas tinggi.
Dokter spesialis jantung di Siloam Hospital, Vito Damay, mengatakan peningkatan heart rate saat berolahraga merupakan bagian dari respons tubuh terhadap aktivitas fisik.
“Jadi saat olahraga, otot membutuhkan lebih banyak oksigen. Jantung merespons dengan memompa lebih banyak darah, salah satunya dengan meningkatkan denyutnya,” kata Vito saat dihubungi, Selasa (6/10).
Meski demikian, menurut Vito, angka denyut jantung saja belum cukup untuk menentukan apakah olahraga yang dilakukan aman atau tidak.
Rumus Menghitung Heart Rate Maksimal
Salah satu perkiraan sederhana yang sering digunakan untuk mengetahui denyut jantung maksimal adalah dengan menggunakan rumus 220 dikurangi usia.
Menurut Vito, seseorang berusia 40 tahun, misalnya, memiliki perkiraan denyut jantung maksimal sekitar 180 kali per menit.
Namun, angka tersebut bukan batas pasti yang berlaku untuk semua orang. Denyut jantung maksimal sebenarnya dapat berbeda pada setiap individu, termasuk dipengaruhi kondisi tubuh dan tingkat kebugaran.
Karena itu, angka 220 dikurangi usia sebaiknya digunakan sebagai panduan perkiraan, bukan patokan mutlak. Mencapai denyut jantung maksimal juga bukan tujuan yang harus dilakukan setiap kali berolahraga.

