Semakin cepat atau semakin berat seseorang berlari, kebutuhan oksigen dan kerja jantung juga dapat meningkat.
2. Angkat Beban
Berbeda dengan lari, denyut jantung saat angkat beban dapat naik dan turun mengikuti setiap set dan periode istirahat. Namun, heart rate bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan.
Tekanan darah juga dapat meningkat ketika seseorang mengangkat beban berat, terutama jika dilakukan sambil menahan napas.
“Jadi, heart rate yang tidak terlalu tinggi belum tentu berarti beban pada jantung ringan,” kata Vito.
Karena itu, melihat angka denyut jantung saja tidak cukup untuk menilai seberapa berat latihan angkat beban bagi tubuh.
3. HYROX
Pada olahraga seperti HYROX, tantangannya menjadi lebih kompleks karena latihan menggabungkan lari dengan berbagai gerakan kekuatan.
Peserta tidak hanya dituntut memiliki daya tahan saat berlari, tetapi juga harus menghadapi beban ketika melakukan latihan kekuatan.
Karena itu, zona denyut jantung ketika berlari tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran keamanan selama seluruh sesi latihan.
Kapan Harus Berhenti Berolahraga?
Pada akhirnya, angka heart rate perlu dilihat bersama kondisi tubuh dan jenis latihan yang dilakukan. Seseorang sebaiknya tidak memaksakan latihan hanya untuk mencapai target denyut jantung tertentu.
Jika muncul keluhan seperti nyeri dada, sesak napas yang tidak biasa, pusing, rasa ingin pingsan, atau jantung berdebar secara tidak wajar, olahraga sebaiknya dihentikan dan kondisi tersebut perlu diperiksa.
Terlebih bagi orang yang memiliki penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau kondisi medis tertentu, target intensitas olahraga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan, bila diperlukan, dikonsultasikan dengan dokter.

