JAKARTA – India, negara dengan populasi terbesar di dunia, sedang mengalami perubahan demografi yang cukup signifikan. Di tengah jumlah penduduk yang mencapai sekitar 1,48 miliar jiwa pada 2026, tingkat kelahiran di negara tersebut terus menurun.
Data terbaru Sample Registration System (SRS) 2024 menunjukkan Angka Kesuburan Total atau Total Fertility Rate (TFR) India turun menjadi 1,9 anak per perempuan, berada di bawah tingkat penggantian penduduk sebesar 2,1. Laporan tersebut diterbitkan oleh Office of the Registrar General & Census Commissioner of India pada Mei 2026.
Penurunan tersebut menjadi bagian dari perubahan demografi India. Negara yang selama puluhan tahun menghadapi persoalan ledakan penduduk kini mulai berhadapan dengan tantangan berbeda, yakni semakin rendahnya tingkat kesuburan dan potensi bertambahnya proporsi penduduk lanjut usia pada masa mendatang.
Pendidikan dan Kontrasepsi Jadi Faktor Penurunan Kelahiran
Para ahli menilai terdapat sejumlah faktor yang mendorong penurunan angka kelahiran di India. Salah satunya adalah semakin luasnya akses perempuan terhadap pendidikan dan alat kontrasepsi.
Ekonom pembangunan yang bekerja di bidang kebijakan sosial India, Dipa Sinha, mengatakan tingkat kesuburan cenderung turun ketika semakin banyak perempuan memiliki akses terhadap pendidikan, kontrasepsi, serta peran lebih besar dalam pengambilan keputusan di rumah tangga.
“Angka kesuburan total sering kali menurun ketika lebih banyak perempuan dalam masyarakat memiliki akses ke pendidikan, alat kontrasepsi, dan lebih banyak peran dalam pengambilan keputusan di rumah tangga,” kata Dipa Sinha kepada Al Jazeera.
“Angka tersebut juga menurun ketika perekonomian menjadi mahal sehingga membesarkan anak juga menjadi mahal.”
Dengan kata lain, keputusan memiliki anak tidak hanya berkaitan dengan perubahan sosial, tetapi juga pertimbangan ekonomi. Ketika biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari meningkat, keluarga dapat mempertimbangkan jumlah anak yang lebih sedikit.

