JAKARTA – Pakar keamanan siber Pratama Pershada mengingatkan pengelola situs web di Indonesia untuk mewaspadai celah keamanan kritis pada bahasa pemrograman PHP. Kerentanan tersebut dilaporkan membuat sejumlah situs pemerintah di Eropa menonaktifkan layanan sementara sebagai langkah pencegahan terhadap potensi serangan siber.

Menurut Pratama, risiko yang perlu diperhatikan di Indonesia bukan hanya kemungkinan terjadinya serangan secara massal, tetapi juga kesiapan pengelola sistem dalam mendeteksi dan memperbaiki kerentanan.

Ia menjelaskan, PHP digunakan secara luas untuk menjalankan situs web, termasuk milik instansi pemerintah, pemerintah daerah, dan sekolah. Namun, sebagian situs diduga masih menggunakan PHP versi lama yang tidak lagi memperoleh pembaruan keamanan, seperti PHP 7 atau PHP 5.6.

“Banyak (situs) yang masih (menggunakan) PHP 7 atau bahkan 5.6. Versi itu sudah tidak didukung lagi, jadi tidak akan pernah dapat tambalan. Itu bukan lagi soal bug, itu soal situs yang sudah lama tidak dirawat,” tutur Pratama, Jumat (23/10/2026).

Penggunaan perangkat lunak yang sudah tidak didukung dapat meningkatkan risiko keamanan karena kerentanan yang ditemukan tidak lagi ditangani melalui pembaruan rutin untuk versi tersebut.

Risiko Celah PHP, dari Gangguan Layanan hingga Pencurian Data

Pratama mengingatkan bahwa dampak eksploitasi celah keamanan tidak terbatas pada situs web yang tiba-tiba tidak dapat diakses. Apabila penyerang berhasil menyusupi server, data yang tersimpan di dalam sistem juga berpotensi terancam.