JAKARTA – Sejumlah sopir dan pengawal truk bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza dilaporkan tewas dalam serangkaian insiden penembakan yang diduga dilakukan pasukan Israel. Keluarga korban dan perusahaan keamanan swasta menuding para pekerja kemanusiaan menjadi sasaran saat menjalankan tugas mengawal distribusi bantuan.

Laporan tersebut diungkap media Asharq Al-Awsat dan The Guardian, yang memuat kesaksian keluarga korban serta rekan-rekan mereka di lapangan.

Pengawal Bantuan Tewas di Al-Mawasi

Salah satu korban adalah Bilal Abu Moussa, petugas keamanan swasta yang bertugas mengamankan jalur distribusi bantuan kemanusiaan di kawasan Al-Mawasi, barat laut Kota Rafah, Gaza selatan.

Menurut adiknya, Sami Abu Moussa, Bilal ditembak hingga tewas pada 14 Juli setelah kendaraan dan posisi personel keamanan dihantam tembakan dari drone serta kendaraan militer Israel.

Jenazah Bilal kemudian dievakuasi ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis.

Sami mengatakan kakaknya selama beberapa bulan bekerja di perusahaan keamanan swasta yang bertugas mengawal distribusi bantuan bagi organisasi internasional, termasuk UNICEF dan UNRWA.

“Kakak saya sudah sering mengeluh. Pasukan Israel memang sengaja menjadikan para penjaga keamanan dan sopir truk sebagai target tembak,” ujar Sami, seperti dikutip Asharq Al-Awsat.

Tiga Petugas Keamanan Tewas

Insiden serupa kembali terjadi pada 20 Juli, ketika sebuah drone Israel menyerang kendaraan milik perusahaan Rimal al-Sahra Security yang mengawal distribusi bantuan Program Pangan Dunia (WFP).

Serangan tersebut mengakibatkan tiga petugas keamanan Palestina meninggal dunia.

Pihak perusahaan membantah tuduhan militer Israel yang menyebut para petugas mencoba menyelundupkan senjata.

Menurut perusahaan, senjata yang dibawa merupakan perlengkapan resmi untuk melindungi konvoi bantuan dari aksi penjarahan dan digunakan sesuai prosedur pengamanan yang telah disepakati.