Jakarta — Seorang personel pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) dilaporkan tewas akibat serangan yang terjadi di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3) malam.
Dalam pernyataannya, UNIFIL menyebut prajurit tersebut meninggal dunia setelah terkena ledakan proyektil yang menghantam pos mereka.
“Seorang penjaga perdamaian tewas secara tragis tadi malam ketika sebuah proyektil meledak di pos UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr,” demikian pernyataan UNIFIL, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (30/3).
“Kami tidak mengetahui asal usul proyektil tersebut. Kami telah meluncurkan penyelidikan untuk menginvestigasi peristiwa ini,” lanjut pernyataan tersebut.
Sebelumnya, Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa militer Israel menyerang markas unit Indonesia di wilayah sekitar Adchit Al Qusayr pada hari yang sama. Laporan awal menyebutkan sejumlah personel mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
UNIFIL ditempatkan di wilayah Lebanon selatan untuk mengawasi konflik di sepanjang garis demarkasi antara Lebanon dan Israel. Kawasan ini kerap menjadi titik bentrokan antara militer Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran.
Saat ini, UNIFIL memiliki sekitar 10.000 pasukan penjaga perdamaian dari berbagai negara. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.200 personel berasal dari Indonesia dan merupakan prajurit TNI.
Sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas, Israel kembali meningkatkan serangannya ke wilayah Lebanon, khususnya terhadap Hizbullah. UNIFIL juga melaporkan bahwa markas mereka beberapa kali terdampak serangan, termasuk insiden pada 7 Maret lalu yang menyebabkan tiga tentara asal Ghana mengalami luka.


