Kota Jambi — Pondok Pesantren Qoryatulhuffazh kembali meneguhkan perannya sebagai pusat pendidikan Al-Qur’an yang berpadu dengan nilai budaya lokal melalui prosesi wisuda santri yang berlangsung khidmat dan sarat makna. Sebanyak 58 santri resmi diwisuda dalam suasana religius yang dibalut adat dan tradisi Melayu, Sabtu (7/2/2026), bertempat di kompleks pesantren Qoryatulhuffazh, Kenali Asam Bawah, Kota Jambi.
Mengusung tema “Budaya Melayu Warisan Negeri, Santri Berbudi Majukan Negeri”, wisuda ini menjadi refleksi komitmen pesantren dalam membentuk generasi Qur’ani yang tidak tercerabut dari akar budaya daerah. Tradisi Melayu yang ditampilkan tidak sekadar menjadi simbol seremoni, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang ditanamkan kepada para santri sejak dini.
Sejumlah ulama dan tokoh agama turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya KH Sholahuddin As-Sargawi, Pimpinan Pondok Pesantren Daruttauhid Kumpeh, serta KH Abdul Latif, Pimpinan Majelis Ilmu wa Dzikri Al-Hidayah Kota Jambi. Kehadiran para tokoh ini memperkuat sinergi antar lembaga keislaman dalam membangun peradaban umat yang berlandaskan ilmu, adab, dan budaya.
Pimpinan Pondok Pesantren Qoryatulhuffazh, Ustadz Dr. H. M. Miftahuttoriq, S.Sy., M.A., Ph.D., Al-Hafizh, menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan santri, melainkan awal pengabdian di tengah masyarakat.
“Santri Qoryatulhuffazh harus menjadi pribadi yang Al-Qur’an hidup dalam dirinya, tercermin dalam akhlak, adab, dan kepedulian sosial, serta tetap menjunjung tinggi budaya Melayu sebagai identitas negeri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perpaduan nilai Qur’ani dan budaya Melayu merupakan kekuatan dalam membentuk karakter santri yang moderat, santun, dan mampu menjadi teladan di mana pun berada.
Pondok Pesantren Qoryatulhuffazh yang didirikan oleh Datuk H. Umar Jayo Usman bin Usman terus konsisten mengembangkan pendidikan Islam berbasis hafalan Al-Qur’an yang berakar kuat pada tradisi Melayu. Melalui pendekatan tersebut, pesantren berupaya melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara keilmuan dan spiritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap masyarakat dan daerah.
Prosesi wisuda ini menjadi bukti bahwa pesantren tetap relevan dan strategis dalam mencetak generasi masa depan—generasi yang berilmu, beradab, dan berbudaya, sejalan dengan cita-cita pembangunan umat serta kemajuan negeri.


